Miliki Filosofi Udeng Ksatrian Surya Anagata, Bisa Dijadikan Cikal Bakal Udeng Khas Surabaya

Bagi lulusan Arsitektur ITATS ini, keinginan untuk membuat udeng tak serta merta hanya karena ingin dikenal masyarakat, bahkan lebih dari itu.

Miliki Filosofi Udeng Ksatrian Surya Anagata, Bisa Dijadikan Cikal Bakal Udeng Khas Surabaya
SURYA.co.id/Ahmad Zaimul Haq
Tommy Priyo Pratomo dan Adi Candra selaku Motivator dan Penyuluh Lingkungan Hidup DKRTH Surabaya, memperagakan cara penggunaan Udeng Ksatrian Surya Anagata untuk item fashion harian. 

TRIBUNNEWSWIKI, SurabayaUdeng Ksatrian Surya Anagata dipilih Tommy Priyo Pratomo untuk nama udeng yang ia buat untuk Surabaya.

Bagi lulusan Arsitektur Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya tahun 2000 ini, keinginan untuk membuat udeng tak serta merta karena ingin dikenal masyarakat atau menjadi sorotan.

Lebih dari itu, Tommy hanya ingin masyarakat tahu bahwa Surabaya juga memiliki satu lagi budaya yang bisa dilestarikan.

Berawal dari pekerjaan sebagai seorang arsitek, Tommy diharuskan mengeksplor banyak lokasi bersejarah di Surabaya, termasuk salah satunya adalah Kampung Dinoyo.

“Di Kampung Dinoyo, ternyata saya baru tahu kalau Surabaya memiliki culture yang tak terlepas dari Kerajaan Majapahit. Hal itu semakin meyakinkan setelah saya membaca buku berjudul ‘Babat Tanah Surabaya’. Dalam buku itu juga menceritakan bahwa Raja Majapahit pernah singgah di sebuah daerah yang kini disebut sebaai Surabaya,” terang Tommy saat ditemui di Kampung Ondomohen beberapa waktu lalu.

Menganut Tren Slow Fashion, TRIPLE Jeans Konsisten Menjaga Kualitas Produk

Udeng Ksatrian Surya Anagata buatan Tommy memiliki desain yang lebih trendi, meski tanpa meninggalkan unsur tradisi atau pakem sebelumnya.

“Saya membuat pakem baru untuk udeng ini, tapi bukan berarti meninggalkan tradisi lama. Jadi saya bikin model yang simpel dan menarik, namun tetap memiliki filosofi dan sejarah yang berkaitan dengan Surabaya,” tuturnya.

Udeng Ksatrian Surya Anagata dibuat oleh Tommy dengan memasukkan unsur kearifan lokal, serta memiliki filosofi yang tidak asal-asalan.

Selain itu, Tommy yakin, bentuk ikatan pada udeng yang dibuatnya tak akan sama dengan udeng dari daerah lain.

Hal itu kemudian membuat Tommy percaya udeng ini akan banyak diminati milenial.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Penulis: Akira Tandika
Editor: Nur Afitria Cika Handayani
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved