Cynthia Cecilia

Di saat semua start up banyak menyasar bisnis kuliner, Cynthia Cecilia justru memilih membuat start up yang berisikan informasi lowongan pekerjaan.

Tribunnewswiki/Akira Tandika
Cynthia tak mau setengah-setengah dalam membangun Jobhun. Saat ini hampir seluruh waktu dan fokusnya ia tujukan untuk mengembangkan Jobhun dengan harapan agar dapat dikenal dan memberi impact pada masyarakat. 

TRIBUNNEWSWIKI, Surabaya - Cynthia Cecilia bisa disebut sebagai milenial yang memiliki pemikiran visioner.

Bagaimana tidak? Di saat semua start up lebih banyak menyasar bisnis kuliner, Cynthia Cecilia justru memilih membuat start up yang berisikan informasi lowongan pekerjaan.

Menurutnya, kebutuhan informasi pekerjaan lebih dibutuhkan dan dicari oleh milenial.

Sejak awal berdiri hingga kini, Jobhun sudah memiliki target yang spesifik dan bukan lagi orang-orang yang senior.

Jobhun lebih menyasar kaum milenial dan generasi Z lantaran anak-anak seusia SMA hingga kuliah yang masih bingung untuk menentukan jalan karier mereka.

Ulfa Mumtaza

CEO Jobhun Cynthia Cecilia turut aktif dalam berbagai komunitas start up yang dimanfaatkan untuk branding. Cynthia kerap melakukan konsultasi dan sharing ilmu dengan teman-temannya di komunitas start up.
CEO Jobhun Cynthia Cecilia turut aktif dalam berbagai komunitas start up yang dimanfaatkan untuk branding. Cynthia kerap melakukan konsultasi dan sharing ilmu dengan teman-temannya di komunitas start up. (SURYA.co.id/Sugiharto)

Dalam membangun Jobhun, Cynthia tak mau setengah-setengah.

Saat ini hampir seluruh waktu dan fokusnya ia tujukan untuk mengembangkan Jobhun dengan harapan agar dapat dikenal dan memberi impact pada masyarakat.

Meski basic pendidikan Cynthia adalah ilmu komunikasi dengan mengambil jurusan jurnalistik, namun justru dari itulah jalan membuat start up ini terbuka.

Saat masih kuliah, Cynthia sudah bekerja sebagai content writer di sebuah perusahaan. Rupanya pekerjaan itu seakan menjadi pintu gerbang bagi Cynthia untuk mendapatkan kesuksesan saat ini.

Di saat teman-teman lain sibuk dan fokus pada perkuliahan, Cynthia harus bekerja sedikit lebih keras karena waktu itu keadaan tidak memungkinkan ia untuk kuliah.

Maka, lanjut Cynthia, jalan satu-satunya agar ia tetap bisa berkuliah meski di kampus swasta adalah dengan bekerja.

Pagi bekerja dan malam kuliah tak membuat Cynthia mengeluh. Bahkan, ia bersyukur karena dengan itu, Cynthia lebih mudah mendapat pekerjaan atau melompat dari pekerjaan satu ke lainnya lantaran pengalaman yang telah ia peroleh dibanding teman-temannya.

Kuliah di kampus swasta tak membuat Cynthia berkecil hati. Malah ia mengambil hikmah dari apa yang telah dilalui dan dihadapi.

Dengan berkuliah di kampus swasta, Cynthia bisa menyambi bekerja, mendapat portofolio lebih banyak dari teman-temannya, dan lebih sejahtera secara ekonomi.

Cynthia mengatakan, ketika ia sudah mulai membangun karier meski belum lulus kuliah. Teman-temannya yang bahkan dari lulusan kampus ternama masih susah mencari kerja.

Mereka bahkan sampai bertanya pada Cynthia soal lowongan pekerjaan. Padahal menurut Cynthia, kalau mau sedikit lebih ulet, mencari kerja itu tidak susah

Hal itu kemudian menjadi awal mula Cynthia memiliki ide membangun sebuah start up yang khusus untuk pengembangan karier, termasuk menyediakan informasi lowongan pekerjaan.

Jobhun juga berangkat dari keresahan Cynthia soal generasi di bawahnya saat akan melamar pekerjaan. Banyak dari mereka yang ternyata masih belum paham cara mengirim surat lamaran yang baik dan menarik agar perusahaan tertarik pada mereka.

Awal membangun Jobhun, Cynthia belum memikirkan produk digital dari dari start up ini. Ia hanya memanfaatkan sesuatu yang ada kala itu yakni, media sosial.

Cynthia mulai membagikan info mengenai lowongan pekerjaan melalui Facebook dan Twitter. Tak hanya sekadar membagikan info, Cynthia juga menambahkan beberapa artikel menarik yang ia tulis sendiri untuk mendapat perhatian pengguna media sosial.

Pada 2015, saat banyak ajang perlombaan start up di Surabaya, Cynthia baru terpikirkan membuat bisnis dari apa yang sudah ia jalankan yakni, Jobhun.

Berbekal pengalaman dan network yang ada, Cynthia mulai membuat platform digital Jobhun.

Jobhun dianggap Cynthia sebagai bentuk pergerakan atau terobosan baru, juga menjadi media untuk memberikan informasi soal dunia karier pada masyarakat.

Setelah beberapa tahun mempelajari tentang start up, Cynthia jadi lebih paham bahwa, apapun bisa menjadi bisnis dan memiliki platform digital. Termasuk Jobhun yang sedng ia kelola.

Namun, untuk membedakan satu bisnis dan yang lainnya tentu dinilai dari inovasi. Cynthia berpikir, start up yang ia bangun harus memiliki ciri dan kelebihan dibanding lainnya.

Cynthia membuat Jobhun tak sekadar sebagai tempat mencari informasi lowongan kerja saja, namun juga membantu perusahaan yang sedang mencari pegawai.

Nabilla Mustikaning Tyas

Cynthia Cecilia mengaku kesusahan dalam mencari pemodal bagi start up yang dibangunnya. Itu karena start up masih kurang dipercaya dan dipandang sebelah mata, terutama di Surabaya.
Cynthia Cecilia mengaku kesusahan dalam mencari pemodal bagi start up yang dibangunnya. Itu karena start up masih kurang dipercaya dan dipandang sebelah mata, terutama di Surabaya. (SURYA.co.id/Sugiharto)

Di Jobhun, perusahaan akan dibantu mencari dan memilah pegawai berdasar kebutuhan mereka. Hal itu dilakukan untuk mempermudah perusahaan dalam merekrut pegawai baru.

Sementara untuk pelamar, Jobhun juga menawarkan pada mereka untuk memperbaiki kualitas diri termasuk cara melamar pekerjaan hingga mengetahui potensi yang dimiliki.

Setahun lalu, Jobhun memperlebar jenis bisnis yang mereka geluti dengan menambah fitur Jobhun Academy.

Fitur ini berupa pelatihan yang bisa digunakan milenial, sudah maupun belum bekerja, untuk memperdalam skill.

Jobhun Academy juga bisa dilakukan dengan dua metode yakni online dan offline.

Kelas-kelas yang ada di Jobhun Academy sengaja disesuaikan dengan skill yang disukai kaum milenial seperti, copy writer, design, web developer, dan masih banyak lagi. Kelas itu dibuat tak hanya menyesuaikan user melainkan juga pada perusahaan.

Selama menjalankan Jobhun, Cynthia juga memikirkan bentuk bisnis untuk kelangsungan start up yang ia bangun.

Pada 2017, Cynthia berpikir membuat Jobhun seperti produk konsultasi karier yang bisa diikuti oleh masyarakat, baik yang belum atau sudah bekerja.

Namun, bentuk bisnis ini tidak bisa berjalan di Surabaya karena tidak diminati masyarakat.

Menurut Cynthia, orang-orang cenderung tidak mau mengeluarkan budget lebih untuk melakukan konsultasi dengan mentor. Tak hanya itu, rupanya bentuk bisnis ini juga tidak selaras dengan hasil yang diinginkan Jobhun.

Cynthia menilai Jobhun Academy lebih cocok jika diterapkan di Surabaya karena kelas konsultasi dilakukan secara berkelompok. Setelah user melakukan konsultasi, Jobhun bisa kembali menyesuaikan karier untuk user.

Jobhun Academy banyak diikuti oleh teman-teman mahasiswa, juga SMA. Selain itu, orang-orang yang baru bekerja juga bisa mengikuti fitur ini.

Valerie Utomo

Nama: Cynthia Cecilia

Tempat Tanggal Lahir: Surabaya, 9 Maret 1995

Alamat Rumah: Dian Regency Apartment 1525, Keputih, Sukolilo, Surabaya 60111

Alamat Kantor: Geco Coworking Space, Kompleks AJBS, Jl. Ratna 14, Ngagel, Surabaya 60111

Riwayat Pendidikan: S1 Ilmu Komunikasi

Riwayat Pekerjaan: Founder & CEO Jobhun, Manager DILo Surabaya

Ayah: Agus Susilo

Ibu: Irene Maria Pattipeiluhu

Instagram: @cynthcecilia

Twitter: @cynthcecilia

Facebook: facebook.com/cynthcecilia

Situs: cynthiacecilia.com

Ikuti kami di
Penulis: Akira Tandika
Editor: Nur Afitria Cika Handayani
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved