Hidupkan Gairah Teater, Eko Rizal Visualisasikan Puisi 'Ke Mana Anak-anak Itu'

Eko selaku sutradara karya visualisasi puisi "Ke Mana Anak-anak itu" mengaku mencoba memaknai arti dari kematian dan kelahiran.

Hidupkan Gairah Teater, Eko Rizal Visualisasikan Puisi 'Ke Mana Anak-anak Itu'
Tribunnewswiki/Akira Tandika
ILUSTRASI - VIsualisasi puisi karya Eko Rizal telah dapat dinikmati di Instagram Teater Kaki Langit sejak Minggu (31/5/2020). 

TRIBUNNEWSWIKI, Surabaya - "Kematian bukanlah tragedi, kecuali jika kita curi dari Tuhan". Begitulah sepenggal syair puisi karya Emha Ainun Najib berjudul "Ke Mana Anak-anak Itu" yang divisualisasikan dalam video berdurasi kurang dari tiga menit oleh Eko Rizal Fatikhin.

Tak hanya itu, dalam video yang diunggah sejak Minggu (31/5/2020) di akun Instagram TV Teater Kaki Langit (@teaterkakilangit) tersebut juga didukung oleh alunan lagu dari musisi Ari Reda yang berjudul "Hujan".

Dengan begitu syahdu, Ahmad Saifur Rijal Ibnu Hamid alias Aceng, aktor dalam visualisasi puisi itu melanjutkan penggalan syairnya sembari mengayunkan badan dan tangan yang dibalut kain putih.

"Nyawa badan
Nyawa rohani
Nyawa kesadaran
Nyawa hak untuk tenteram
Nyawa kewajiban untuk berbagi kesejahteraan
Nyawa amanat untuk merawat keadilan
Dihembuskan oleh Tuhan"

Sama seperti makna yang dibawakan dalam puisi tersebut, Eko selaku sutradara karya visualisasi puisi "Ke Mana Anak-anak itu" mengaku mencoba memaknai arti dari kematian dan kelahiran.

Program Diet Keto Bisa Jadi Pilihan Tepat untuk Turunkan Berat Badan Setelah Lebaran

Bandara Juanda Siap Terapkan Prosedur Pelayanan pada Penumpang Selama New Normal

Sehingga terhubungnya antara judul Tabularasa bertafsir bahwa setiap individu terlahir dengan jiwa yang putih, suci, dan bersih.

"Bagi saya, yang membuat seseorang menjadi baik maupun buruk adalah lingkungan. Bukan karena dia terlahir sebagai orang buruk atau baik," ujar Eko.

Visualisai puisi "Ke Mana Anak-anak Itu" digarap oleh Eko dan dibantu oleh Aceng dengan menghabiskan waktu selama enam hari sejak awal hingga proses editing.

"Selama empat hari berdiskusi dan dua hari kerja visual, dari menggodokan ide pembacaan hingga sineas, Aceng ingin membacakan puisi ini dengan bentuk tampilan lain agar lebih tersadur makna yang ada di dalam puisi ini," tambahnya.

Selain untuk menyalurkan karya lantaran selama pandemi kegiatan pentas teater menjadi terbatas, melalui ini Eko juga ingin semua orang bisa semangat berkarya dan lebih mengkesplor dan terbuka terhadap perubahan zaman.

Manajer Divisi Produksi Teater Kaki Langit, Rekha Aqsoliafitrosah mengatakan, lewat karya ini banyak sekali hal yang ingin disampaikan. Baik kepada masyarakat maupun teman-teman yang menggeluti dunia teater.

Terkait kondisi saat ini, Rekha begitu menyorot kreativitas dan keinginan teman-teman dunia teater untuk tetap berkarya dan cepat beradaptasi dengan media yang ada, supaya kegiatan teater tidak mandek.

"Karya yang Teater Kaki Langit rilis melalui media digital ini sebagai peringatan pupusnya panggung pementasan live yg sekarang beralih ke panggung audio visual (digital). Namun, para pegiat juga tidak boleh putus asa, supaya tetap menghidupkan teater bagaiamana pun caranya," jelasnya.

Rekha melanjutkan, ketika pandemi, media berseni perlu fleksibel dan tidak sekaku biasanya. Jadi melalui karya tersebut, pihaknya bisa membuktikan jika seni (sastra atau puisi) dapat menggabungkan dan kemajuan teknologi (instagram, aplikasi editing, dan sebagainya," tandasnya.

Ikuti kami di
Penulis: Akira Tandika
Editor: Nur Afitria Cika Handayani
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved