Jadi Perawat Pasien COVID-19, Sudarman Sempat Merasa Khawatir Anaknya Tertular Virus

Awal ditunjuk, Sudarman merasa khawatir. Namun perasaan itu sementara ia kesampingkan membantu sesama dalam merawat dan menyembuhkan pasien COVID-19.

Jadi Perawat Pasien COVID-19, Sudarman Sempat Merasa Khawatir Anaknya Tertular Virus
TRIBUNNEWSWIKI/Akira Tandika
Sudarman saat mengikuti konferensi pers virtual yang digelar Habitat For Humanity Indonesia bersama awak media, Rabu (10/6/2020). 

TRIBUNNEWSWIKI, Surabaya - Sudarman merupakan satu di antara tenaga medis yang terjun langsung untuk merawat pasien COVID-19.

Perawat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cengkareng itu mengaku mendapat tugas untuk merawat pasien sejak rumah sakit tempatnya bekerja ditunjuk sebagai rujukan.

Sudarman mengaku, ia merasa bangga lantaran dapat ditunjuk langsung oleh pihak rumah sakit menjadi perawat pasien COVID-19.

Awal ditunjuk, Sudarman memang merasa khawatir. Namun perasaan itu sementara ia kesampingkan membantu sesama dalam merawat dan menyembuhkan pasien COVID-19.

"Awal merawat pasien COVID-19, saya sempat merasa khawatir. Takut kalau ternyata imun saya nggak kuat, jadi kemungkinan menularkan ke orang terdekat juga ada. Selain itu, di awal penanganan, rumah sakit sempat kekurangan Alat Pelindung Diri (APD)," terang Sudarman saat melakukan konferensi pers secara virtual bersama Habitat For Humanity, Rabu (10/6/2020).

Namun, perasaan khawatir itu tak lagi dirasakan Sudarman saat bantuan dari donatur dan Pemerintah Daerah (Pemda) setempat datang.

Kepada awak media yang mengikuti konferensi pers secara virtual itu, Sudarman juga mengisahkan pengalaman pertamanya bekerja dengan menggunakan APD lengkap.

Aji Santoso Berharap Kasus COVID-19 Menurun Bulan September, Ini Alasannya

"Sempat merasa nggak enak, pusing sampai mual waktu pertama kali bekerja menggunakan APD lengkap. Padahal baru satu jam pemakaian. Namun saya kemudian berpikir, jika menyerah sekarang, siapa lagi yang akan membantu kawan-kawan tenaga medis di situasi seperti ini," jelasnya.

Tak hanya itu, pengalaman-pengalaman tak mengenakkan lainnya juga dialami Sudarman. Termasuk menghadapi stigma masyarakat dan harus jauh dari keluarga.

"Sebelum mendapat bantuan tempat singgah dari Habitat For Humanity, tiap hari saya terpaksa pulang ke rumah. Memang benar bertemu keluarga, tapi saya jadi membatasi diri dengan mereka karena takut menularkan virus," imbuhnya.

Bahkan, Sudarman harus rela menitipkan sang anak ke tetangga rumahnya selama dia pulang ke rumah agar tak menularkan virus ke anak bayinya itu.

Sudarman melanjutkan, dirinya sadar dengan stigma masyarakat sekitar akan dirinya yang merupakan seorang perawat rumah sakit. Sedikit banyak, masyarakat menilai bahwa Sudarman membawa virus saat pulang ke rumah.

"Maka dari itu, sejak diminta untuk menjadi perawat pasien COVID-19, saya mengurangi bersosialisasi dengan masyarakat, sampai akhirnya mendapat tempat singgah dari Habitat For Humanity" tuturnya.

City Management CitraLand Bagikan Ribuan Sembako dan APD Pada Warga Sekitar

Dengan begini, Sudarman merasa lebih baik meski tetap harus berjauhan dengan kelurga. Setidaknya, sambung Sudarman, ia tidak khawatir ikut menularkan virus pada keluarganya.

"Kalau kangen keluarga paling ya memanfaatkan teknologi yang ada dulu sementara. Video call atau telepon sudah bisa mengobati," tandasnya.

Ikuti kami di
Penulis: Akira Tandika
Editor: Nur Afitria Cika Handayani
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved