Bersama Puluhan Penulis, Teguh Wahyu Utomo Suarakan Perasaan Selama Pandemi COVID-19 Lewat Buku

Teguh Wahyu Utomo mengajak puluhan masyarakat menyuarakan perasaan masyarakat selama pandemi COVID-19 lewat sebuah buku.

SURYA.co.id/Habibur Rohman
PULUHAN PENULIS - Editor buku "Kiat Hidup di Tengah Krisis Covid-19" Teguh Wahyu (batik merah) saat menyerahkan sumbangan buku yang diwakili Bidang deposit Akuisisi Pelestarian dan Pengolahan Bahan Perpustakaan Jawa Timur Sugeng Priyanto, Kamis (16/7/2020). Buku Antologi yang disumbangkan di perpustakaan Jl Menur Pumpungan ini gabungan dari puluhan penulis. 

TRIBUNNEWSWIKI, Surabaya - Teguh Wahyu Utomo memilih cara berbeda untuk menyuarakan perasaan masyarakat selama pandemi COVID-19 ini. Ia mengajak puluhan masyarakat dari beragam latar belakang untuk mengungkapkan perasaan mereka lewat sebuah buku.

Tak hanya satu, pria yang akrab disapa Tomo itu membuat tiga buku sekaligus yang berisi tentang perasaan dan pemikiran sebagian masyarakat selama pandemi.

"Tapi saat ini baru ada dua buku yang selesai dirilis yakni, 'Kiat Hidup di Tengah Krisis COVID-19' dan 'New Normal Cara Kami'. Buku ketiga kami yang berjudul 'Waspada Gelombang Kedua Corona' masih dalam proses pencetakan," ujar Tomo saat ditemui di Perpustakaan Daerah Jawa Timur (Perpusda Jatim), Menur Pumpungan, Kamis (16/7/2020).

Tomo mengaku, awalnya kegiatan menulis buku ini tidak masuk dalam daftar kegiatannya. Ia hanya ingin membagikan semangat menulis dan literasi kepada masyarakat yang tertarik.

"Jadi memang awalnya saya bikin pengumuman di media sosial Facebook dan Instagram itu hanya untuk membuat kelas menulis online. Namun rupanya dari kegiatan itu, saya justru mendapat ide mengumpulkan hasil tulisan teman-teman untuk dijadikan antologi dengan tema berbeda," terangnya.

Tomo mengaku, untuk menulis satu buku tak memerlukan waktu yang lama, hanya sekitar satu bulan. Justru proses editorial dan pencetakan yang memerlukan waktu lebih lama.

Para penulis buku ini, menurut Tomo, berasal dari profesi yang berbeda. Dari ibu rumah tangga hingga politikus. Hal tersebut ternyata tidak begitu dipermasalahkan Tomo.

Alumnus DKV Universitas Ciputra Surabaya Buat Program BANDESKEM untuk Bantu UKM di Tengah Pandemi

"Karena kan di sini kita sama-sama belajar. Jadi karena latar belakang pembuatan buku ini adalah kelas menulis online, maka tiap-tiap penulis yang belum berpengalaman, akan berkonsultasi pada saya melalui grup. Kalau ingin lebih intens, biasanya mereka chat saya secara personal," ungkapnya.

Tomo tidak membatasi bentuk tulisan penulis pada buku yang diluncurkan. Lantaran penulis memiliki perasaan dan pemikiran yang berbeda. Ada yang membuat cerpen, puisi, esai, dan lainnya.

Hal itu dilakukan Tomo, lantaran dari beberapa partisipan, banyak yang baru pertama kali menulis. Maka, agar selanjutnya mereka mau menulis lagi, Tomo tidak memberikan batasan.

Sebar Virus Sastra Lewat Program Parade 100 Hari Baca Cerpen

Selain itu, sebagai editor dari ketiga buku yang ditulis bersama, Tomo mengaku tidak banyak melakukan editorial meski ada beberapa penulis yang masih baru.

"Hal itu saya lakukan supaya tidak menghilangkan ciri khas dari penulis itu sendiri. Jadi saya hanya mengedit di beberapa bagian saja, sisanya saya serahkan pada penulis yang bersangkutan," tuturnya.

Ikuti kami di
Penulis: Akira Tandika
Editor: Nur Afitria Cika Handayani
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved