Sebar Virus Sastra Lewat Program Parade 100 Hari Baca Cerpen

Heti Palestina Yunani dan Wina Bojonegoro gencar sebarkan virus sastra selama pandemi lewat program "Parade 100 Hari Baca Cerpen".

Tribunnewswiki/Akira Tandika
Heti Palestina Yunani danWina Bojonegoro saat menjadi narasumber dalam program Ngobrol Bareng Tribun Jatim Network, Rabu (15/7/2020). 

TRIBUNNEWSWIKI, Surabaya - Heti Palestina Yunani dan Wina Bojonegoro gencar sebarkan virus sastra selama pandemi lewat program "Parade 100 Hari Baca Cerpen".

Apabila biasanya, sastra akan melibatkan banyak orang dari dunia literasi dan pelaku sastra atau susastra. Kali ini, Heti dan Wina membuktikan bahwa sastra bisa dinikmati oleh banyak orang. Sekalipun mereka tidak memiliki latar belakang sastra.

Menurut Heti, salah satu penggagas program "Parade 100 Hari Baca Cerpen", sastra bisa membuat banyak orang merasa dirinya ikut terlibat dalam seni.

"Maksudnya adalah, 49 hari program ini berjalan, banyak diikuti oleh orang-orang dari beragam profesi seperti, dokter, ibu rumah tangga, pegawai, politikus, dan masih banyak lagi. Setelah itu, mereka merasa telah menjadi sesuatu yang berbeda lewat sastra," ujar Heti dalam live Zoom Program "Ngobrol Bareng" Tribun Jatim Network, Rabu (15/7/2020).

Tak hanya itu, Heti juga menjelaskan mengenai lama hari yang digunakan dalam program ini. Ia memilih 100 hari karena hal ini lebih bisa disebut dengan gerakan yang sesuai visinya.

Para peserta yang tergabung dalam program "Parade 100 Hari Baca Cerpen" dipilih secara random. Kebanyakan, lanjut Heti, mereka ditawari secara langsung.

Digelar Secara Virtual, Surabaya Fashion Parade 2020 Berikan Pengalaman Nonton Show yang Berbeda

"Kalau bahasa Jawanya itu getok tular. Jadi sebenarnya memang informasi awal, lebih ke teman-teman satu circle. Lalu kemudian menjalar ke banyak orang," terang Heti.

Karena program ini digagas oleh Heti dan Wina Bojonegoro, maka seluruh cerpen yang akan dibaca masyarakat merupakan karya milik Wina.

Meski begitu, Heti dan Wina akan melakukan interview singkat kepada pembaca terlebih dulu. Gunanya agar cerpen yang dibaca sesuai dengan kepribadian atau kesukaan si pembaca.

"Karena membaca cerpen pun harus dihayati. Maka untuk mempermudah proses itu, saya dan mbak Wina melakukan interview singkat untuk mencocokkan dengan pembaca," tutur Heti.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Akira Tandika
Editor: Nur Afitria Cika Handayani
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved