Angkat Tema The Divine Enigma, Pasangan Seniman Surabaya Visualkan Keputusasaan Manusia

Karya itu menampilkan Putri, yang diibaratkan sebagai sosok pembangkang di surga dan mendapat hukuman dari Tuhan hingga harus turun ke bumi.

Foto: @terpakunama
The Divine Enigma: Descicion menampilkan Putri Andrianingtyas, yang diibaratkan sebagai sosok pembangkang di surga, tengah mendapat hukuman dari Tuhan hingga harus diturunkan ke bumi. Karya video art ini baru saja dirilis di Instagram pribadi masing-masing sejak, Minggu (19/7/2020). 

TRIBUNNEWSWIKI, Surabaya - Pasangan seniman asal Surabaya, Ryan Hendriansyah dan Putri Andrianingtyas, baru saja merilis karya terbaru mereka di Instagram pribadi masing-masing sejak, Minggu (19/7/2020).

Karya berupa audio visual itu menampilkan Putri, yang diibaratkan sebagai sosok pembangkang di surga, tengah mendapat hukuman dari Tuhan hingga harus diturunkan ke bumi.

"Karya ini kami ambil dari kisah The Fallen Angel. Di mana sosok yang diusir dari surga ini sempat membangkang pada Tuhan saat awal penciptaan manusia. Meski sudah diturunkan ke bumi, sosok ini tidak kunjung memperbaiki diri. Ia justru merusak kehidupan di sekitarnya," jelas Ryan Hendriansyah selaku Director The Divine Enigma: Descencion saat dihubungi, Selasa (21/7/2020).

Sehingga, lanjut Ryan, Tuhan menjatuhkan hukuman kedua pada sosok tersebut dan membuatnya tidak dapat lagi melihat kebaikan. Hal itu pun ditunjukkan pada akhir video berdurasi lebih dari tiga menit, di mana tangan dan mata Putri dihiasi warna hitam.

Ryan menjelaskan, karya ini sebenarnya juga terinspirasi dari karya lukisan seniman Alexandre Cabanel a.k.a The Portrait Painter (1823 - 1889). Seperti Fallen Angel (1847), Albaydé (1848), Pandora (1873) dan The daughter of Jephthah (1879).

"Dari karya mereka kemudian muncul gagasan utama untuk video art ini. Kami menginterpretasi ulang judul, visual, dan muatan romantisisme dari Fallen Angel serta karya lukis lainnya. Hal itu juga memberikan inspirasi pada kami dalam elemen pencahayaan, lokasi, makeup, wardrobe, serta aksi," ujarnya.

Dalam pengerjaan karya The Divine Enigma, Ryan mengaku tidak banyak mengalami kendala meski dikerjakan di tengah pandemi COVID-19. Protokoler kesehatan tetap dilaksanakan dengan baik. Selain itu, tim yang luar biasa pun disebut mensukseskan karya Ryan dan Putri di tahun 2020 ini.

"Dalam pengerjaan karya ini, kami tentu tidak sendirian. Ada beberapa pihak yang turut membantu membuat karya ini luar biasa seperti, indischenetwork company dan lokasi pengambilan gambar di cafe indische1931 pun menjadi lokasi yang sangat ideal dan kondusif," terang Ayah dari satu orang anak itu.

Veve Linn Bagikan Tip Agar Make Up Tak Banyak Menempel pada Masker

Bersama Puluhan Penulis, Teguh Wahyu Utomo Suarakan Perasaan Selama Pandemi COVID-19 Lewat Buku

Ryan berupaya menciptakan kesadaran akan ars moriendi (seni kesekaratan) melalui The Divine Enigma ini.

Baginya, kematian memiliki peran penting bagi manusia untuk merangkai peristiwa hidup, menyusun rencana dan antisipasinya, serta secara bebas memilih arah tujuan hidup.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Akira Tandika
Editor: Nur Afitria Cika Handayani
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved