Batik Wistara Gunakan Warna Cerah sebagai Ciri dan Daya Tarik Kaum Milenial

Lewat warna-warna itu, Ariyono ingin menggambarkan batik itu harus ceria, juga agar pesan yang disampaikan bisa diterima oleh pasar anak muda.

SURYA.co.id/Habibur Rohman
Batik Wistara dikenal memiliki motif abstrak dan warna yang cerah seperti, merah muda, hijau tosca, biru, orange, dan masih banyak lagi. Lewat warna-warna itu, Ariyono ingin menggambarkan batik itu harus ceria, juga agar pesan yang disampaikan bisa diterima oleh pasar anak muda. 

TRIBUNNEWSWIKI, Surabaya - Batik Wistara dikenal memiliki motif abstrak dan warna yang cerah seperti, merah muda, hijau tosca, biru, orange, dan masih banyak lagi.

Lewat warna-warna itu, Ariyono ingin menggambarkan batik itu harus ceria, juga agar pesan yang disampaikan bisa diterima oleh pasar anak muda.

"Dengan warna-warna yang lebih terang dan ceria ini, saya berharap supaya anak-anak muda semakin gemar mengenakan batik untuk sehari-hari," tuturnya.

Meski menganut motif abstrak, bukan berarti tidak bisa dibaca. Biasanya, Batik Wistara menggunakan ragam motif bunga dan candi, yang kemudian saat proses cap ditumpuk-tumpuk.

"Motif tumpuk-tumpuk ini saya sebutnya sebagai Batik Junjing. Karena ya itu tadi, saat proses cap tidak bisa rapi satu line. Sebenarnya, saya juga sudah memberikan arahan pada teman-teman untuk merapikan menjadi satu baris. Namun ya begitu, ketika nggak diawasin, jadinya ditumpuk. Jadi ya sudah saya biarkan saja. Saya anggap ini adalah style mereka," jelasnya.

Ariyono mengaku, batik yang ia buat memang tidak berkaca pada pakem manapun. Karena saat ini hampir semua daerah telah menciptakan batik khas daerah masing-masing.

Batik Wistara: 10 Tahun Bekerja dengan Teman-teman Difabel

Smart Buying ala Ariella Devina dengan Teori Cost Per Wear

Selain kain batik, Ariyono juga membuat kreasi pakaian batik. Modelnya, juga dibuat oleh teman-teman difabel. Meski buan model hasil kreasi sendiri, tapi teman-teman difabel cukup kreatif dengan menambahkan detail lainya.

"Jadi seperti outer atau kemeja ini, modelnya memang mereka ambil dari internet. Tapi kemudian ada detail khusus yang dibuat sendiri oleh mereka," terang Ariyono.

Ariyono mengatakan, Batik Wistara memang tidak sebesar rumah batik lainnya. Namun, hingga saat ini Batik Wistara sudah mengirimkan barang produksi mereka ke seluruh Indonesia.

Ariyono Melihat Anak Difabel Juga Memiliki Masa Depan

Di mata Ariyono, seluruh anak difabel baik yang bekerja dengannya atau tidak, sama-sama memiliki masa depan yang cerah. Apabila sejak dini sudah dibina dan diajarkan beragam skill.

"Karena anak-anak difabel ini nantinya juga akan bekerja dan bertemu jodohnya. Sehingga mengajarkan skill dan kemandirian sejak dini pun tidak salah," ujarnya.

Ariyono melihat, banyak anak difabel terlalu dimanja atau dikasihani oleh orang tuanya karena mempunyai kekurangan. Padahal, itu justru membuat mereka tidak berkembang dan hidup secara mandiri.

Maka, Ariyono membiarkan teman-teman difabel yang bekerja dengannya berkreasi dengan sesuka hati mereka seperti, membuat motif, menjahit, dan lai sebagainya.

"Asal kalau salah, harus dibetulkan lagi. Jadi supaya hasil belajarnya mereka ini nggak sia-sia. Saya selalu bilang sama mereka untuk tidak takut salah. Karena dari kesalahan itu, mereka belajar hal baru," tambah Ariyono.

Ikuti kami di
Penulis: Akira Tandika
Editor: Nur Afitria Cika Handayani
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved