Patahkan Stigma Buruk Travesty, Teater Kaki Langit Ajak Masyarakat Lebih Mengenal Budaya

Film "EX-TRAVESTY?" karya Teater Kaki Langit Surabaya menampilkan kisah seorang travesty yang memiliki peran penting dalam pertunjukkan ludruk.

Penulis: Akira Tandika
Editor: Akira Tandika
YouTube/depfilm dkjatim
Cuplikan film "EX-TRAVESTY?" karya Teater Kaki Langit Surabaya yang meraih posisi 10 besar dalam Jatim Dokumenter Film Festival 2020. 

TRIBUNNEWSWIKI, Surabaya - Beberapa waktu lalu, Komunitas Teater Kaki Langit membuat film dokumenter "EX-TRAVESTY?" berdurasi sekira 15 menit mengenai sosok travesty dalam sebuah pagelaran ludruk.

Film yang meraih posisi 10 besar dalam Jatim Dokumenter Film Festival 2020 ini, menampilkan kisah seorang travesty yang memiliki peran penting dalam pertunjukkan ludruk. Namun di satu sisi, mereka juga mendapat anggapan buruk dari masyarakat lantaran peran tersebut.

"Kenapa memilih ludruk? Karena pertama kami merupakan komunitas seni. Sehingga ketika membuat project seperti ini kami ingin hal tersebut juga memiliki keterkaitan dengan apa yang kami kerjakan. Kedua kami juga ingin mematahkan stigma buruk tentang travesty, yang kemudian memiliki dampak pada gerakan pelestarian seni budaya Indonesia," jelas Manajer Divisi Produksi Teater Kaki Langit Surabaya Rekha Aqsoliafitrosah.

Rekha merasa, regenerasi ludruk di era ini masih terhitung sulit. Bahkan tak banyak seniman, yang secara khusus mendalami ini.

Memang, ludruk tak sepenuhnya hilang. Namun, orang yang berperan dalam pelestraian ludruk adalah orang yang sama dari tahun ke tahun. Tidak ada perubahan. Jika ada tambahan, itu pun hanya sedikit.

"Maka, kami berpikir untuk dapat mengenalkan ludruk ke generasi sekarang melalui dokumenter ini," ujar Rekha.

Apabila ditilik kembali, video garapan Teater Kaki Langit ini lebih menonjolkan sosok travesty yang merupakan sebutan untuk laki-laki dalam ludruk yang mendapat peran sebagai perempuan.

"Dulu, perempuan yang ikut dalam ludruk itu dianggap tabu. Maka dari itu, peran-peran perempuan dalam ludruk selalu dilakukan oleh laki-laki," terangnya.

Rekha melanjutkan, saat ini anggapan tersebut agaknya mulai berubah seiring kebebasan perempuan dalam berekspresi. Perempuan mulai mendapat peran dalam dunia pementasan. Hal ini membuat laki-laki yang dulunya menjadi travesty karena menggantikan mereka pun mendapat anggapan tabu dari masyarakat.

Anggapan-anggapan buruk dari masyarakat ini yang kemudian membuat seseorang tidak bebas berekspresi.

"Dalam 'EX-TRAVESTY?', kami ingin menunjukkan bahwa untuk melestarikan budaya, kita tidak harus terbawa peran. Maksudnya, ketika ada laki-laki yang berperan sebagai perempuan di sebuah pertunjukkan, ya nggak apa. Karena saat mereka turun panggung, segala peran itu dilepaskan," paparnya.

Ia menekankan, agar masyarakat tidak mengambinghitamkan hal-hal yang seperti itu sebagai alasan untuk tidak melestarikan budaya.

"Kami ingin masyarakat, terutama pelaku seni menyikapi hal ini dengan cara profesional," tutupnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved