Mengenal Mahdian Klem, Inovasi Metode Sunat Modern Produk Dalam Negeri di Surabaya

Sunat adalah prosedur membuang sebagian atau seluruh kulit penutup depan penis (kulup). Salah satu metode sunat adalah Mahdian Klem. Apa itu?

Editor: eben haezer
ist
Khitan atau sunat dengan metode Mahdian Klem 

SURYAWIKI, SURABAYA - Teknologi khitan atau sunat terus berkembang. Mengingat khitan tidak lagi hanya menjadi bagian dari tradisi dan anjuran keagamaan, tindakan sunat juga telah terbukti memberikan dampak positif pada kesehatan, pasalnya kulup yang tidak dibuang dapat menjadi tempat berkumpulnya kotoran.

"Apabila kotoran tersebut dibiarkan dapat menumpuk dan berisiko menyebabkan infeksi pada area genital laki-laki," kata
Cendykia Akbar, praktisi sunat dari Rumah Sunat dr. Mahdian cabang Surabaya, Selasa (6/10/2020).

Sunat adalah prosedur membuang sebagian atau seluruh kulit penutup depan penis (kulup).

Pemilihan metode sunat juga harus diperhatikan untuk mengurangi risiko komplikasi yang kemungkinan dapat terjadi, seperti pendarahan, infeksi, nyeri, kulup yang dibuang kurang atau terlalu banyak dan trauma pada anak pascasunat.

Pengalaman atas tindakan konvensional (dianggap menyakitkan, masih tradisional, lama sembuh, menghambat aktivitas) juga memicu keraguan bahkan ketakutan bagi sebagian masyarakat untuk melakukan sunat.

“Kemungkinan tersebut bisa saja terjadi, oleh sebab itu tindakan sunat perlu dilakukan oleh dokter yang berpengalaman dan menggunakan peralatan yang memadai, sesuai standar dan aman,” lanjut dr Cendykia Akbar.

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan metode sunat yang lebih aman dan nyaman kian meningkat, salah satunya adalah metode 'Mahdian Klem'.

Menurut dr Akbar, metode sunat 'Mahdian Klem' ini diminati oleh banyak dokter karena dinilai lebih higienis, aman, dan penggunaannya yang mudah.

“'Mahdian Klem' ini disposable, satu anak satu klem. Kalau metode sunat lainnya masih ada kemungkinan dipakai pasien lainnya,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, dr Mahdian Nur Nasution, SpBS menyebutan penggunaan klem di Indonesia semakin meningkat. "Namun saat itu klem sunat masih harus diimpor dari luar negeri sehingga berdampak pada biaya sunat yang tinggi," jelasnya.

Karena itu, pihaknya memilih menciptakan klem sunat yang berkualitas tinggi, kuat, memiliki daya jepit maksimal namun ringan dan sesuai anatomis anak Indonesia yang tak kalah dengan buatan luar negeri, maka terciptalah Mahdian Klem.

Lebih lanjut, dr Mahdian menyebutkan, klem ini menjadikan proses sunat lebih mudah, cepat hanya 10 menit, minim perdarahan, tanpa jahit, tanpa perban, proses penyembuhan luka lebih cepat dibandingkan metode sunat konvensional, dan anak langsung bisa beraktivitas pascasunat.(Sri Handi Lestari).

Sumber: Surya
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved