Omzet Menurun Hingga 50 Persen, Pabrik Tahu Dinoyo Tetap Layani Pesanan Retail Kecil

Pabrik tahu Dinoyo yang merupakan pabrik tahu tertua di Surabaya mengalami penurunan omzet hingga 50 persen. Namun pesanan retail kecil jalan terus.

Penulis: Akira Tandika
Editor: eben haezer
surabaya.tribunnews.com/ahmad zaimul haq
Aktivitas pembuatan tahu di tempat usaha pembuatan tahu UD Sumber Kencana di kawasan Dinoyo, Surabaya, Selasa (20/10/2020). Produksi tahu di pabrik tahu tertua di Surabaya itu menurun akibat pandemi COVID-19 dari biasanya menghabiskan bahan baku kedelai sekitar 200 kilogram menjadi 100 kilogram per hari, atau menurun sebesar 50 persen. 

SURYAWIKI, SURABAYA - Imbas pandemi COVID-19 pada perekonomian di Indonesia, rupanya dirasakan oleh semua lini. Termasuk yang dialami pengelola pabrik tahu Dinoyo, pabrik tahu tertua Surabaya.

Pabrik tahu yang berada di Jalan Dinoyo itu mengalami penurunan hampir lebih dari 50 persen pada tahun 2020 ini.

Hal tersebut dikatakan langsung oleh penerus generasi ketiga UD Sumber Kencana, Riani saat ditemui di pabriknya, Selasa (20/10/2020).

"Dulu, waktu masih normal bisa sampai 200 kilogram. Kalau sekarang, kadang tidak sampai separuhnya," ujar perempuan yang akrab disapa Mami Tahu itu.

Mami Tahu mengatakan, saat ini banyak warung tutup juga pedagang keliling yang biasa menjajahkan tahu, sementara tidak beroperasi. Hal itu pun yang membuat produksi tahu di pabriknya menurun drastis.

Sementara itu, untuk dapat bertahan di masa pandemi seperti saat ini, Mami Tahu juga menerima produksi makanan lain hanya agar perputaran ekonomi tetap berjalan.

"Sebenarnya produksi cincau dan mutiara (untuk es campur) ini sudah ada sejak beberapa tahun terakhir. Lumayan untuk menambah pemasukan pabrik dan juga karyawan. Terutama waktu memasuki bulan Ramadan. Jumlah produksi sedikit lebih meningkat," ungkapnya.

Mami Tahu melanjutkan, selama ini ia hanya mendistribusikan Tahu Dinoyo ke sekitaran, seperti salah satunya adalah Pasar Keputran.

"Saya belum ada rencana untuk mendistribusikan tahu hingga ke luar kota. Hanya di Surabaya saja," katanya.

Selain mendistribusikan ke pasar atau penjual keliling, Mami Tahu juga kadang menerima pesanan langsung dari orang yang mengolah tahu menjadi jajanan ringan.

Meski tidak mengambil langsung banyak, Mami Tahu tetap melayani pesanan tersebut.

Setiap satu kali masak, Mami Tahu membutuhkan bahan baku kedelai sebanyak 16 kilogram. Nantinya, bahan baku tersebut akan melalui proses pencucian, penggilingan, hingga penyaringan.

Biasanya dalam satu kali masak, Mami Tahu bisa memproduksi tahu hingga delapan papan dengan ukuran normal. Di mana per papan ia jual sebesar Rp 30.000.

Baca juga: Sejarah Pabrik Tahu Dinoyo

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved