Anggar Gusti Perkenalkan Seni Budaya pada Milenial Lewat Musik Kontemporer

Lewat musik kontemporer, Anggar Gusti ingin mengenalkan seni budaya ke generasi milenial yang jadi murid-muridnya.

ist
Anggar Putri (kanan), Personel Duo Etnicholic yang juga merupakan pengajar di SMA Brawijaya Smart School Malang. 

SURYAWIKI, SURABAYA - Anggar Gusti terbilang cukup akrab dengan kesenian, bahkan sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), dia tidak pernah absen membawakan tarian tradisional saat peringatan 17 Agustus.

"Meski saat SMP dan SMA sempat mencoba tari modern hingga cheerleaders, tetap saja jiwa-jiwa seni tradisionalnya terpanggil. Seperti saat SMA, selalu diminta membawakan tarian tradisional di sekolah saat ada acara," terang Anggar saat dihubungi, Kamis (7/1/2020).

Anggar mengaku sempat mencoba tari modern dengan lagu "Serasa" milik Alm Chrisye, yang kala itu memang sedang booming.

"Namun yang tertinggal di ingatan justru alunan musik di lagu tersebut. Bagaimana bisa lagu pop, tapi tetap ada alunan musik etnik. Secara tidak langsung, itu yang membuat saya mencari dan mendengarkan musik-musik sejenis. Hingga, hal tersebut juga mempengaruhi kehidupan seni saya pada masa sekarang," tuturnya.

Beberapa tahun setelahnya, Anggar bersama beberapa rekan tergabung dalam grup musik kontemporer bernama Nusantara Etnik dan melakukan aransemen ulang lagu modern, dengan menambahkan unsur etnik.

Saat bergabung dengan Artmochestra pun, Anggar masih bereksperimen dengan musik kontemporer hingga memenangkan penghargaan Best Vocal dalam ajang yang digelar oleh Semen Indonesia tahun 2009 lalu.

Penghargaan Best Vocal Nasional juga didapat Anggar saat ia bergabung dengan grup Cak Bagus Experimental. Anggar meraih penghargaan Best Vocal Nasional dengan alat eksperimental gitar, contrabass, dan percussion dari Screen Sablon.

Bagi Anggar, musik kontemporer adalah salah satu karya dengan unsur seni berkualitas tinggi. Hal itu pun yang ingin dikenalkan Anggar pada murid-muridnya di SMA Brawijaya Smart School Malang.

"Tak jarang, saya memberikan tugas pada anak-anak untuk membuat lagu yang memiliki unsur etnik dengan beberapa teknik dasar. Atau bagaimana membuat sebuah lagu daerah lebih menarik, dengan mencampurkan unsur modern namun juga tidak menghilangkan musik etniknya," jelas perempuan kelahiran 9 Agustus 1986 itu.

Menurutnya, ini merupakan salah satu cara memperkenalkan seni budaya pada anak-anak di masa sekarang.

"Bagi saya, seni itu harus mengikuti zaman. Dengan begitu, generasi zaman sekarang tetap bisa menikmati seni tradisional, meski dengan cara yang modern," tutupnya.

Baca juga: Duo Etnicholic Asal Malang Raih Juara dalam Sopravista International Festivals di Italia

Ikuti kami di
Penulis: Akira Tandika
Editor: eben haezer
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved