Mahasiswa Unesa Rendra Aditya Putra Adam Refleksikan Sejarah Surabaya Lewat Batik

Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Rendra Aditya Putra Adam menciptakan motif batik yang merefleksikan sejarah kota Surabaya.

Editor: Akira Tandika
SURYA.CO.ID/Sugiharto
Mahasiswa Unesa Surabaya, Rendra Aditya Putra Adam menunjukkan hasil karyanya batik Kawasan Surabaya, Sabtu (9/1/2021). Batik tersebut terinspirasi dari beberapa kawasan di Surabaya antara lain Praban, Kembang Jepun, dan sebagainya. 

SURYAWIKI, SURABAYA - Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Rendra Aditya Putra Adam menciptakan motif batik yang merefleksikan sejarah kota Surabaya.

Empat motif yang ia usung masing-masing terinspirasi dari kawasan Praban, Tunjungan, Kayoon, dan Kembang Jepun. Keempatnya merupakan kawasan penuh kisah sejarah.

"Batik saya kali ini mengangkat tema Napak Tilas ing Suroboyo. Adapun empat judulnya yakni Nyai Praban Kinco, Kemekar ing Kayoon, Kemerlap Tunjungan, dan Kembang Jepun," katanya, Sabtu (9/1/2021).

Pada motif Nyai Praban Kinco misalnya, Rendra menghadirkan sosok ibu dari Joko Jumput yang merupakan tokoh babat alas Kota Surabaya. Pada motif ini, digambarkan seorang figur wanita yang tengah meramu jamu.

"Dikisahkan, Nyai Praban Kinco merupakan pembuat jamu yang sangat terkenal. Ini saya tuangkan dalam kain sepanjang dua meter. Saya tambahkan dengan motif rempah-rempah," urai Rendra.

Sedangkan pada batik lain, ia menggambar bunga-bunga penuh warna yang mekar. Motif ini merefleksikan keindahan kawasan Kayoon yang terkenal dengan daerah penjual bunga.

"Sementara yang Tunjungan berupa hiasan dinding. Untuk motif yang ini menggambarkan modernisasi yang ada di Jalan Tunjungan," kata Rendra.

Seperti misalnya ia menampilkan motif lentera yang menjadi salah satu ikon untuk berswafoto di kawasan ini. Ia juga memperlihatkan kehidupan warga Surabaya yang modern.

"Adapun Kembang Jepun ini saya buat busana atasan yang motifnya perpaduan antara budaya Cina dan Jepang. Dulu, area Kembang Jepung ini merupakan China Town di mana menjadi tempat perdagangan orang Cina. Sementara orang Jepang datang ke sini untuk singgah," ia menguraikan.

Salah satu gambar yang ia hadirkan yakni gerbang kya-kya yang ikonik dan menyimbolkan keberadaan kawasan Kembang Jepun.

Sumber: Surya

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved