Emi Tetra, Tak Pernah Berhenti Belajar untuk Bekal Pensiun

Sejak tinggal di Jepang pada 2007 lalu, Rahmayanti Helmi Yanuariadi atau yang akrab disapa Emi Tetra lebih sering mengisi hari-harinya dengan belajar.

ist/dok.pribadi
Rahmayanti Helmi Yanuariadi atau yang akrab disapa Emi Tetra lebih sering mengisi hari-harinya dengan belajar. 

SURYAWIKI, SURABAYA - Sejak tinggal di Jepang pada 2007 lalu, Rahmayanti Helmi Yanuariadi atau yang akrab disapa Emi Tetra lebih sering mengisi hari-harinya dengan belajar.

Memang, awal menginjakkan kaki di Jepang, ia ingin tetap aktif menulis, seperti yang dilakukannya dulu saat menjadi seorang wartawan beberapa majalah.

"Dulu masih ingin tetap aktif menulis untuk konten traveling meski hanya sebagai freelance, tapi sepertinya rasa ketertarikan saya justru lebih ke kerajinan. Maka dari itu, selama tinggal di sana, kegiatan saya melakukan kerajinan bersama guru-guru di sana lebih banyak," ujar Emi Tetra saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Salah satu kerajinan yang menarik perhatian Emi kala itu adalah wire corchet dengan memadukan keindahan batu alam.

Emi tidak asal memilih kegiatan untuk mengisi kegiatannya, namun juga berdasar pada yang dia sukai.

"Karena kalau berawal dari hal-hal yang disukai, akan lebih mudah diserap dan tidak terasa berat," terangnya.

Bahkan, Emi sudah mulai menjual beberapa produk dari hasil belajarnya tersebut. Salah satu yang paling banyak mendatangkan orderan adalah wire corchet.

Wire corchet merupakan bentuk perhiasan yang terbuat dari kawat dengan melilit bebatuan alam.

Sementara itu, Emi mendapat batu alam yang kerap ia jadikan perhiasan dari berbagai tempat dan kesempatan.

"Saya di Jepang itu ikut satu perkumpulan bernama Minami Circle. Anggotanya ya ibu-ibu Jepang yang masih aktif melakukan banyak kegiatan dan saling belajar art. Kadang mereka membuat beberapa pameran yang berisi pengrajin. Nah di situ saya sering menjumpai beberapa pengrajin yang menjual batuan alam unik dan indah," jelas Emi.

Tak hanya di Jepang saja, saat Emi memiliki kesempatan mengikuti suaminya bekerja di negara lain, ia kerap mempergunakannya untuk berkeliling melihat-lihat bebatuan alam yang dijual.

"Saya nggak pernah cari yang mahal. Paling penting, harus indah, bentuknya unik, dan harganya murah. Karena kan tujuannya untuk dijual kembali. Supaya harganya masih bisa dijangkau pembeli," ujar perempuan kelahiran Tarakan 57 tahun lalu itu.

Selain wire corchet, ada pula beberapa jenis kerajinan lain yang dipelajari oleh Emi di antaranya, silver clay, porcel-arts, dan American Tool Painting.

Ikuti kami di
Penulis: Akira Tandika
Editor: eben haezer
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved