Lebih Dekat Dengan Fashion Designer Josephine Nyoman

Berawal dari kecintaan mix and match pakaian yang bercorak dan colourful, Josephine Nyoman melangkah lebih jauh menjadi fashion designer. Ini sosoknya

Editor: eben haezer
ist
Designer Josephine Nyoman (tengah) 

SURYAWIKI, SURABAYA - Kekhasan dalam sebuah desainer membuat ciri dan ikonik tersendiri pada sebuah karya yang dihasilkan.

Demikian halnya yang dilakukan Josephine Nyoman, seorang fashion designer. Berawal dari kecintaan mix and match pakaian yang bercorak dan colourful, Josephine kemudian suka membuatkan baju ke penjahit.

“Saya hanya mix and match, lalu saya kumpulkan untuk dibawa ke panjahit,” katanya.

Kegemaran inilah yang membuat Josephine memutuskan untuk mempelajari dunia fashion lebih lanjut.

Apa yang dilakoninya mendapat perhatian dan dukungan penuh dari orang tua. Bahkan untuk mendukung, orangtuanya memberikan kesempatan kepada Josephine untuk melanjutkan studi di bidang fashion and textile di Sydney, Australia.

Kesempatan emas ini tak disia siakan, ia berangkat ke Australia untuk belajar ilmu textile namun ia juga menyempatkan  untuk internship dengan designer-designer lokal Australia.

“Saya banyak kesempatan sharing tentang fashion designer  dengan para desainer lokal disana,  seperti Carla Zampatti, Bianca Spender, Willow dan Julio Valdez,” ungkapnya.

Ada kesempatan untuk berkompetisi, Josephine juga selalu mengikuti, ia bahkan sukses hingga pada saat final year di Sydney.

“Saya memberanikan diri untuk mengikuti international competition di New Zealand,” kenangnya.

Hasilnya di luar dugaan, ia berhasil menjadi salah satu finalist dari Indonesia yang menjadi Top 30 International Finalist of iD Dunedin Fashion Week.

Pada tahun 2013 Josephine Nyoman memutuskan untuk kembali ke Indonesia.

Josephine kembali lagi untuk memberanikan diri mengikuti beberapa ajang kompetisi fashion designer yang ada di Indonesia ia juga mendapatkan dorongan dari sahabat dan keluarga.

Lagi lagi kompetisi yang diikuti  Josephine di Indonesia membuahkan hasil ia menjadi Top 10 Finalist Harper’s Bazaar Asia New Generation Fashion Designer Award dan Top 10 Finalist Lomba Perancang Mode (LPM).

Dari banyak prestasi yang ia dapat, kini penyuka kuliner Nasi Goreng ini mendapatkan undangan untuk memamerkan karya busana couture di acara Jakarta Fashion Food and Festival (JFFF).

“Ini merupakan suatu kehormatan tersendiri saat itu saya   memamerkan 10 busana couture bertemakan ‘Noir Et Or’,” katanya.

Koleksi ini terdiri dari body fit silhouette dress hingga ballgown dengan perpaduan warna dan texture hitam dan gold. Ia juga memberikan sentuhan details dengan payet, Mutiara dan swarovski, sebagai salah satu ciri dari karya karyanya.

Koleksi terkini dari Josephine kini banyak yang desainnya di kombinasi dengan arsitektur.

“Suami seorang arsitektur, nah sekarang di combine sama design arsitek suami,” lanjutnya.

Ia mengaku jika background fashion dengan architectural building ini menjadi inspirasinya untuk mengembangkan karyanya.

“Hampir semua design baju terinspirasi dari bangunan bangunan yang klasik hingga moderen kontemporer,” imbuhnya.

Ia mencontohkan bangunan seperti Cathedral dilihat dari warna silhouette dan detailnya yang kemudian di integrasikan ke moderen look, hasilnya sangat apik.

“Misalnya warna warna gold dijadikan lebih moderen dengan permainan gradasi agar lebih kontemporer,” tutupnya. (Wiwit Purwanto)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved