National Hospital Surabaya Rilis Test PCR Dengan Sampel Air Liur untuk Deteksi Covid-19

National Hospital Surabaya telah merilis Saliva Based Test PCR untuk mendeteksi covid-19. Metode ini hanya membutuhkan air liur dalam pemeriksaan.

surabaya.tribunnews.com/ahmad zaimul haq
Petugas menjelaskan prosedur kepada pasien sebelum melakukan PCR Saliva Based Testing di National Hospital Surabaya, Selasa (2/2/2021) sebagai alternatif tes pendeteksi Covid-19 selain swab PCR. Dalam tes ini, sampel yang digunakan adalah saliva atau air liur, sehingga lebih mudah dilakukan sendiri dan ramah untuk anak kecil. 

SURYAWIKI, SURABAYA - Terobosan baru dalam dunia kesehatan guna mendeteksi dan menekan angka penyebaran COVID-19 makin beragam. Paling baru, National Hospital Surabaya telah merilis Saliva Based Test PCR.

Berbeda dengan Swab Test, pengambilan sampel pada Saliva Based Test tergolong mudah dan tanpa rasa sakit. Cukup menggunakan air liur sebanyak 1 mililiter sebagai sampel.

"Sejak dibuka untuk umum pada 11 Januari 2021 lalu, animo masyarakat terhadap jenis tes ini cukup besar. Selain karena memang lebih mudah, hasilnya juga lebih cepat," ujar CEO National Hospital Surabaya, Adj Prof Hananiel Prakasya Widjaya.

Untuk melakukan Saliva Based Test, pasien diwajibkan berpuasa penuh minimal satu jam sebelum pengambilan sampel. Hal ini untuk mencegah supaya saliva tidak terkontaminasi bahan-bahan lain.

"Karena Saliva Based Test ini tingkat sensitivitasnya cukup tinggi. Jangankan makan dan minum, pasien juga tidak diperkenankan berkumur maupun menggosok gigi dalam kurun waktu satu jam sebelum pengambilan sampel," tuturnya.

Berdasar pantauan di lokasi, pasien yang melakukan Saliva Based Test akan mendapat satu paket alat untuk pengambilan sampel. Satu paket tersebut berisi corong penampung air liur, cairan buffer, dan kantong biohazard.

Rahmat, salah seorang tenaga kesehatan yang membantu layanan Saliva Based Test di National Hospital mengatakan, untuk memproduksi saliva lebih banyak pasien disarankan memijat area pipi dengan gerakan circular.

"Ingat, yang dikumpulkan adalah saliva. Bukan dahak. Sehingga cairan yang terkumpul hanya dari area dalam mulut atau pipi bagian dalam," terangnya.

Bila sudah, cairan saliva akan ditampung dalam corong yang telah disediakan sesuai dengan ukuran. Setelah itu, saliva bisa dicampur dengan cairan buffer dan dikocok selama 30 detik.

Terakhir, sampel tersebut diberi stiker nama dan dimasukkan ke dalam plastik biohazard, serta langsung diletakkan pada kotak penampung yang telah disediakan.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Akira Tandika
Editor: eben haezer
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved