Desainer Aryani Widagdo Kampanyekan Fashion Zero Waste hingga Pelosok Indonesia Lewat Workshop

bumi yang sudah tua ini, bisa semakin buruk keadaannya apabila tidak didukung dengan aksi perbaikan, termasuk dalam hal fashion.

surabaya.tribunnews.com/ahmad zaimul haq
Aryani Widagdo sudah menggeluti dunia fashion zero waste sejak empat tahun terakhir. Ia kemudian berinisiatif untuk memberikan workshop sekaligus kampanye agar masyarakat lebih aware dengan konsep zero waste. 

SURYAWIKI, SURABAYA - Aryani Widagdo sangat concern dengan konsep pakaian zero waste selama empat tahun terakhir ini.

Ia sadar betul bahwa bumi yang sudah tua ini, bisa semakin buruk keadaannya apabila tidak didukung dengan aksi perbaikan. Salah satu aksi dari dunia fashion adalah sustainable fashion dengan cara zero waste.

"Sampah fashion menjadi yang terbesar kedua di dunia setelah minyak. Apabila dibiarkan, akan jadi seperti apa bumi kita? Bahkan untuk satu buah kaos sama dengan 700 galon. Yang mana 700 galon itu bisa untuk men-supply air minum satu orang dalam satu hingga dua tahun," jelas Aryani saat ditemui di kediamannya di kawasan Bukit Golf Surabaya.

Maka dengan konsep zero waste, Aryani membuat pakaian tanpa meninggalkan sisa kain. Juga dengan menggunakan bahan yang lebih ramah lingkungan seperti, serat alam.

Sejak Juni 2020 lalu, Aryani juga secara aktif membuat workshop secara online. Baik yang dilakukan secara free maupun berbayar.

"Sebelumnya saya juga aktif membuat workshop, namun dilakukan secara offline. Langsung bertatap muka dengan peserta," tuturnya.

Lewat workshop tersebut, ia ingin menumbuhkan kembali home sewing, yang banyak dilakukan oleh ibu-ibu di zaman dulu.

Selain itu, Aryani sekaligus ingin para pelaku UMKM fashion untuk lebih aware mengenai konsep zero waste.

"Konsep zero waste ini sudah diklaim dapat menyelamatkan bumi dari kerusakan atau pencemaran kain. Bahkan beberapa brand besar sudah mulai menerapkan konsep ini pada produk fashion yang mereka jual," kata Aryani.

Meski begitu, Aryani mengaku untuk membuat workshop secara online terasa sedikit lebih susah daripada saat bisa bertatap muka.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Akira Tandika
Editor: eben haezer
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved