Tetap Bertahan di Tengah Pandemi, UMKM Manufaktur di Sidoarjo Gunakan Strategi Jemput Bola

Alih-alih menyerah dengan keadaan, pemilik PT Borneo Iban Jaya Perkasa itu justru memiliki cara tersendiri agar usaha yang dijalankan tetap berjalan.

IST
Mashudi, pemilik PT PT Borneo Iban Jaya saat menunjukkan mesin produksi yang menjadi inovasi terbarunya. 

SURYAWIKI, SURABAYA - Bagi Mashudi, pandemi COVID-19 tidak pernah masuk dalam daftar tantangan usahanya. Hal itu pun agaknya dialami oleh pengusaha lainnya.

Alih-alih menyerah dengan keadaan, pemilik PT Borneo Iban Jaya Perkasa itu justru memiliki cara tersendiri agar usaha yang dijalankan tetap berjalan.

Hal tersebut diungkapkan Mashudi dalam gelaran "Jelajah Virtual UMKM" yang diadakan oleh Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) beberapa waktu lalu.

"Kami terbiasa menjalin relasi baik dengan para kustomer. Tak hanya sebagai rekanan bisnis, namun juga sebagai saudara atau teman," terangnya.

Lantaran treatment tersebut, Mashudi tak sungkan untuk menerapkan strategi jemput bola pada kustomernya. Strategi ini memungkinkannya untuk menawarkan secara langsung barang produksi PT Borneo Iban Jaya Perkasa pada kustomer.

Selain itu, Mashudi juga kerap melakukan inovasi untuk usahanya. Salah satunya adalah inovasi pada mesin produksi.

"Kalau ada inovasi mesin yang lebih mempercepat hasil produksi, kenapa tidak dilakukan inovasi tersebut?" ujar Mashudi.

Sebagai seorang pengusaha, Mashudi dituntut harus pandai dalam melihat situasi. Hal itu kemudian membuat dirinya rajin mencari ilmu dari berbagai sumber.

Berbagai kegiatan yang dirasa dapat meningkatan kompetensi, diikuti oleh Mashudi agar nantinya juga dapat ditularkan pada pegawainya seperti, pelatihan basic mentality, pelatihan dan pendampingan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin), dan lain-lain.

Selain komponen otomotif, PT Borneo juga memproduksi bracket tv serta berbagai produk logam lainnya berdasarkan permintaan dan kebutuhan pelanggan. Saat ini produk-produk tersebut bahkan telah dipasarkan ke beberapa wilayah antara lain, Jakarta, Solo, dan Surabaya.

"Saat ini kami memiliki 25 karyawan, termasuk tiga anak saya yang ikut membantu menjalankan usaha ini dengan jobdesk yang berbeda," tuturnya.

Masing-masing ada di bagian keuangan dan quality control. Meski begitu, Mashudi mengaku tetap bekerja secara profesional dengan anak-anaknya.

"Anak saya yang ketiga ada di bagian keuangan, kami berusaha profesional. Uang kembalian Rp 30 ribu untuk membeli bahan material saja ditagih oleh anak saya. Sehingga, pastinya sulit untuk melakukan hal-hal tidak profesional, seperti korupsi," papar Mashudi.

Dengan melibatkan ketiga anaknya, Mashudi berharap bisnis yang dijalankan dapat terus berkembang dan menjadi berkah.

Ikuti kami di
Penulis: Akira Tandika
Editor: Akira Tandika
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved