Perjalanan Claresta Alim Pendiri Indonesia Dance Company, Sejak Bayi Sudah Kenal Balet

Claresta Alim adalah cucu dari maestro balet Marlupi Sijangga. Perempuan kelahiran Surabaya itu pun mendirikan Indonesia Dance Company. Ini kisahnya

Editor: eben haezer
ist
Claresta Alim, pendiri Indonesia Dance Company 

SURYAWIKI, SURABAYA - Claresta Alim (29) bersemangat saat menceritakan bagaimana dirinya mengenal tari balet.

Semua dimulai dari sang nenek, Marlupi Sijangga yang meminta asistennya untuk memakaikan baju balet kepada Claresta Alim.

Dari situ, Claresta Alim “pentas”. Dalam perjalanan panjang, baju balet itu menjadi titik awal hingga menjadi pengajar tari balet professional yang melanglang buana.

“Saat kecil itu aku masih biasa saja menilai tari balet. Jadi, saat umur 2,5 tahun, Oma (Marlupi Sijangga) memang mengajar balet di rumah dan studio. Aku tinggal dengan Oma sejak bayi sampai TK,” kata pengajar tari balet profesional di Bali tersebut. 

Perlahan, tari balet dikenalkan oleh Marlupi Sijangga kepada Claresta kecil. Neneknya meminta tolong seorang asisten untuk membantu memakaikan baju balet untuknya. Claresta kecil malah berteriak dan menolak permintaan sang nenek hingga tangis pun pecah.

“Ayo Tjiek In, pakaikan baju balet, begitu kata Oma. Aku menangis,” kenangnya sambil tertawa geli.

Akan tetapi, masa emas Claresta memang ada di sekitar balet. Ia melihat segala aktivitas balet sejak membuka mata hingga merem lagi.

Tidak heran bila akhirnya telinganya akrab dengan musik klasik pengiring gerakan balet. Matanya terbiasa menyaksikan liukan gerakan yang dilakukan Oma bersama mereka yang berlatih. Tidak heran jika akhirnya ia melebur dalam dunia balet.

Nenek Claresta Alim, Marlupi Sijangga punya peran besar. Marlupi adalah seniman tari Indonesia dan pendiri sekolah balet Marlupi Dance Academy. Marlupi Sijangga pula yang menjadi inspirasi bagi Claresta Alim dalam menekuni tari balet.

“She always has been my inspiration,” terang Claresta.

Jadilah ia sebagai generasi ketiga dalam dinasti balet Indonesia.

Wanita kelahiran 15 Agustus 1991 itu berlatih dua kali dalam seminggu selama satu jam, hingga saat ini. Ia menikmati setiap gerakan. Ia juga menikmati proses yang diamati dari anak-anak yang berlatih.

“Aku mengikuti les balet Selasa dan Jumat selama satu jam. Dulu balet hanya seminggu dua kali. Tidak seperti sekarang, anak-anak mampu belajar balet setiap hari. Malah mereka memilih home schooling dan menjadikan balet sebagai profesi dan karier. Waktu itu, aku hanya menemukan balet sebagai hobi dan sebatas kegiatan les,” kisahnya.

Di masa itu, ia menilai tari balet hanyalah kegiatan yang wajib dilakukan setiap hari.

Belum tebersit di pikirannya, penari balet bisa menjadi karier yang menjanjikan di masa depan.

“Aku tidak tahu apa-apa tentang dunia balet sebenarnya. Dulu bagiku balet hanya untuk bersenang-senang. Saat itu aku belum pernah melihat penari balet di luar negeri. Saat itu belum ada Instagram dan YouTube. Setelah mengenal dunia luar, ternyata balet itu sangat hebat dan indah,” tutur penyuka traveling itu.

Melanglang Buana

Sebelum menjadi pengajar tari balet profesional, wanita yang lahir di Surabaya itu mendalami balet lewat pendidikan khusus. Jalur pendidikan yang ia pilih tak jauh dari dunia balet.

Claresta Alim tertarik pada balet sejak mengikuti Summer Camp Short Course di Shanghai, Tiongkok. Saat itu usianya 15 tahun.

“Oma mengajak aku ke Tiongkok. Di sana mataku terbuka. Wow ternyata balet itu nggak hanya les-lesan seminggu sekali. Mereka latihan balet sejak pagi hingga sore. Sementara di sore hingga malam, mereka bersekolah. Jika di Indonesia, sekolah digelar dari pagi hingga sore kemudian berlatih balet sore sekitar 1-2 jam. Jadi, di Tiongkok, mereka berlatih balet setiap hari dan bersekolah setiap hari,” katanya kagum.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved