Imam Mardioto Sampaikan Pesan Pelestarian Pesut Mahakam Lewat Busana

Menurunnya jumlah perkembangan Pesut Mahakam di Kutai Kartanegara membuat Desainer Imam Mardioto mendapat inspirasi dalam membuat busana.

SURYA.CO.ID/Habibur Rohman
Untuk merepresentasikan pesan pelestarian Pesut Mahakam, Imam Mardioto menggabungkan sentuhan brokat sebagai lambang jaring-jaring yang kerap menangkap Pesut Mahakam. 

SURYAWIKI, SURABAYA - Menurunnya jumlah perkembangan Pesut Mahakam di Kutai Kartanegara membuat Desainer Imam Mardioto mendapat inspirasi dalam membuat busana.

"Sebetulnya, menangkap ikan itu menjadi kebiasan masyarakat di Kutai Kartanegara. Tapi, justru dari kebiasaan itu, secara tidak sadar turut membuat kelestarian Pesut Mahakam menurun," terang Imam dalam gelaran Men's Fashion Style di Ciputra World Surabaya.

Imam melanjutkan, namun sebenarnya masyarakat sekitar tidak secara sengaja menangkap Pesut Mahakam.

"Hanya saja, kebiasaan meninggalkan jaring dalam waktu lama itulah yang membuat pesut kecil tertangkap jaring dan terlambat untuk diselamatkan," imbuhnya.

Maka itu, tambah Imam, busana pada koleksi kali ini ia buat dengan menggabungkan sentuhan brokat sebagai lambang jaring-jaring yang kerap menangkap Pesut Mahakam.

Selain bercerita tentang itu, pada koleksi kali ini Imam juga ingin mengangkat tema mengenai Kembang Janggut asli dari Kutai Kartanegara.

"Jadi sebetulnya kalau ditarik ke belakang, saya ini terbiasa membuat motif yang melambangkan seluruh kecamatan yang ada Kutai Kartanegara. Totalnya ada 18, tapi yang baru saya bikin dan patenkan ada enam motif. Salah satunya Kembang Janggut," ujar pria yang juga merupakaan PNS Dinas Kesehatan Kutai Kartanegara itu.

Imam menjelaskan, sebetulnya warna asli Kembang Janggut adalah kuning dan oranye. Namun dia memilih tidak menggunakan warana itu karena ingin mengambil nuansa monokro, biru dan putih.

"Selain itu, warna kuning dan oranye sudah saya gunakan pada pameran sebelumnya. Jadi supata lebih spesial, saya terpikir untuk ganti warna saja," tuturnya.

Tak hanya itu, dalam koleksi Kembang Janggut, Imam juga memasukkan konsep campuran Jawa. Lantaran ia memasukkan Kotang Gandul sebagai inner busana.

"Sebetulnya konsep busana ini tidak mengenakan dalaman. Kotang gandul ini sebetulnya pakaian yang kerap digunakan orang Jawa sehari-hari sebagai dalaman. Jadi memang desainnya saya kombinasi," tutup Imam.

Ikuti kami di
Penulis: Akira Tandika
Editor: Akira Tandika
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved