Epilepsi Rolandic Dapat Sembuh 100 Persen Setelah Melewati Kriteria Ini

Menurut Spesialis Bedah Saraf National Hospital Surabaya dr Heri Subianto SpBS (K) FINPS jenis Epilepsi Rolandic dapat sembuh hingga 100 persen.

Penulis: Akira Tandika
Editor: Akira Tandika
ist
ilustrasi epilepsi 

SURYAWIKI, SURABAYA - Menurut Spesialis Bedah Saraf National Hospital Surabaya dr Heri Subianto SpBS (K) FINPS jenis Epilepsi Rolandic dapat sembuh hingga 100 persen.

Epilepsi Rolandic merupakan sindrom epilepsi fokal yang kerap ditemukan pada anak di kisaran usia 1 hingga 15 tahun dengan prevalensi sekitar 15 persen tanpa disertai demam.

"Biasanya epilepsi rolandic lebih sering dialami oleh anak di kisaran usia 3 hingga 5 tahun atau 8 hingga 9 tahun," terang Heri.

Epilepsi Rolandic biasanya disebabkan oleh faktor genetik dan bukan karena kecelakaan.

Dilansir dari artikel penelitian berjudul "Profil Klinis Benign Rolandic Epilepsy (BRE) di RSUD Pasar Rebo Tahun 2013-2018" disebutkan bahwa abnormalitas genetik yang kompleks dan melibatkan banyak gen, dipercaya memiliki korelasi kuat terhadap BRE.

Heri mengatakan, pasien epilepsi rolandic dapat dinyatakan sembuh apabila dalam 10 tahun tidak mengalami kejang sama sekali. Dengan catatan, dalam lima tahun sudah berhenti minum obat.

"Proses menyatakan pasien epilepsi sembuh itu sangat panjang, karena harus melewati kriteria ketat dengan pengawasan dokter," jelasnya.

Heri menambahkan, jika pasien sudah dinyatakan sembuh, tentu ada beberapa aktivitas yang harus dihindari. Rata-rata termasuk aktivitas yang terlalu berat dan merangsang kejang.

"Di antaranya istirahat teratur, hindari aktivitas berlebihan, tidak menggunakan gadget di tempat gelap karena sinarnya dapat merangsang kejang, hindari makanan pemicu seperti coklat dan alkohol," papar Heri.

Sementara itu, Heri berpesan pada masyarakat apabila ada anggota keluarga atau orang sekitar yang menunjukkan tanda-tanda epilepsi, harus segera dibawa ke dokter rumah sakit terdekat untuk diperiksa secara menyeluruh.

"Karena, jika pasien tidak segera mendapatkan pemeriksaan, akan susah mengetahui penyebab dia terkena epilepsi. Jika sudah begitu risiko kematian secara mendadak karena tidak dapat penanganan yang baik pun bisa terjadi," tutupnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved