Eri Cahyadi Memulai Karier sebagai Pegawai Negeri Golongan 2C

Eri yang merupakan lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu mengaku sempat bekerja di sebuah perusahaan swasta, tak lama setelah lulus.

Penulis: Akira Tandika
Editor: Akira Tandika
SURYA.co.id/Bobby Constantine Koloway
(Ilustrasi) Bakal Calon Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat bersepeda di Surabaya. 

SURYAWIKI, SURABAYA - Dalam wawancara eksklusif bersama Pemimpin Redaksi Harian Surya Febby Mahendra Putra, sosok Eri Cahyadi sempat menceritakan bagaimana ia memulai kariernya sebelum menjabat sebagai Wali Kota Surabaya.

Eri yang merupakan lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu mengaku sempat bekerja di sebuah perusahaan swasta, tak lama setelah lulus.

"Perusahaan itu bergerak di bidang tambang dan kontraktor. Saya berada di bagian konsultan. Gajinya lumayan. Tapi nggak lama di sana, saya diminta Ayah untuk daftar Pegawai Negeri Sipil (PNS)," terangnya.

Saat diterima sebagai PNS pun, ia diminta oleh sang Ayah untuk tidak menggunakan gelar sarjana. Karena, jika gelar itu dipakai, Eri akan langsung masuk ke golongan 3A. Hal itu tidak diinginkan oleh Ayahnya.

"Ayah maunya saya mulai karier dari bawah. Beliau meminta saya menggunakan gelar sarjana muda saja, supaya masuk golongan 2C. Dengan begitu, saya tahu bagaimana rasanya meniti karier dari bawah," ungkap Eri.

Di posisi itu, Eri paham betul bagaimana ia ditempa oleh atasan. Mendapat banyak tekanan ketika bekerja. Namun, justru itu yang membentuk dirinya seperti sekarang.

Pada masa awal, pria yang sedang menempuh pendidikan S3 itu mengaku, harus banyak belajar tentang dasar hukum lelang.

"Dalam waktu tiga bulan, saya hafal. Saya sampai berani debat dengan Pimpinan Proyek. Ternyata, menjadi pejabat harus dari bawah. Sehingga saya tahu aturan dan bisa menimba ilmu," tutur Eri.

Pada satu sesi, Eri sempat mengatakan bahwa ia tidak memiliki niatan menjadi seorang wali kota. Eri ingat betul, pada hari di mana pengumuman pengusungan dirinya sebagai wali kota, ia tidak langsung mengiyakan.

Pria kelahiran 27 Mei 1977 itu rupanya harus melapor pada Umi (ibu) dan Ayahnya. Jika mereka sudah memberikan izin dan doa, Eri berani maju menjadi wali kota.

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved