Jargon 'Meneruskan Kebaikan' Dipilih Eri Cahyadi untuk Lepaskan Bayangan Risma

Tri Rismaharini dan Surabaya menjadi satu kesatuan yang dikenal kuat oleh masyarakat. Hal ini, menjadi tantangan tersendiri bagi Eri Cahyadi.

Penulis: Akira Tandika
Editor: Akira Tandika
SURYA/Saiful Sholichfudin
Wawancara Eksklusif News Director Tribun Network sekaligus Pemred Harian Surya, Febby Mahendra Putra bersama Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi di ruang kerja Balai Kota Surabaya, Jumat (28/5/2021). 

SURYAWIKI, SURABAYA - Tri Rismaharini dan Surabaya menjadi satu kesatuan yang dikenal kuat oleh masyarakat. Hal ini, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pengemban tugas kepemimpinan selanjutnya.

Hal itu pun sempat dialami oleh Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya periode 2021-2026. Namun, ia meyakini bahwa tiap pemimpin memiliki karakter yang berbeda.

"Apa yang terbaik dari pemimpin lama, kita teruskan. Sehingga, kami memiliki jargon 'Meneruskan Kebaikan'. Di dalam mengaji, mulai kecil diajarkan untuk berterimakasih kepada pemimpin sebelumnya. Artinya, kalau ada kebaikan maka harus diteruskan," terang Eri dalam wawancara eksklusif bersama Pemimpin Redaksi Harian Surya Febby Mahendra Putra beberapa waktu lalu.

Meski begitu, Eri tidak meneruskan kebaikan itu dengan gaya yang sama. Ia memiliki karakter tersendiri.

Misalnya saja saat melakukan sosialisasi pelayanan BPJS. Eri tak perlu melakukan blusukan hingga ke rumah warga. Ia cukup memberikan pelatihan teknologi kepada RT setempat, untuk nantinya diteruskan ke warga.

Eri sekali lagi menekankan bahwa gaya kepemimpinan yang ia terapkan sangat berbeda dengan Risma. Bahkan, pada beberapa aspek, ia tidak dapat meniru perempuan yang kini menjadi Menteri Sosial itu.

"Misalnya saja seperti menangani pendemo. Kalau ibu yang turun, beliau akan memarahi pendemo layaknya anak sendiri. Nah, kalau saya ikut menerapkan hal itu, yang ada malah geger sama pendemo," kelakar Eri.

Hal lain yang juga melekat dengan gaya kepemimpinan Risma adalah handy talky (HT). Menurut Eri, ia cukup menggunakan handphone saja untuk menangani beberapa hal.

"Kalau HT itu lokasinya bisa terdeteksi. Maka, saya lebih memilih menggunakan handphone. Karena bisa langsung menghubungi dinas terkait," tambah Eri.

Meski begitu, Eri mengaku masih tetap berhubungan dengan Risma untuk satu dan lain hal. Karena baginya, Risma merupakan guru yang tidak dapat dilupakan.

Bagi Eri, kesempurnaan dalam memimpin terjadi ketika adanya kesinambungan sesama untuk membangun.

"Saya masih cium tangan dengan pada guru saya. Bu Risma juga merupakan guru dan orang tua seperti guru saya lainnya," tutup Eri.

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved