Tangan Emas Dari Dapur Pemilik Bebek Kremes Don King

Semasa masih indekos, Fenie Wati kerap senang memasak untuk teman-teman kosnya. Kini dia punya brand ayam dan bebek kremes Don King

Editor: eben haezer
ist/dok.pribadi
Fenie Wati, owner ayam dan bebek kremes Don King 

SURYAWIKI, SURABAYA - Semasa masih indekos, Fenie Wati kerap senang memasak untuk teman-teman kosnya. 

Rupanya, hobi memasak itu yang membawanya menjadi pengusaha kuliner. 

Fenie Wati adalah pemilik ayam dan bebek kremes Don King. 

Fenie, begitu ia biasa dipanggil, sejak kecil sudah senang dengan urusan dapur.

Dia ikut membantu orangtuanya berjualan makanan di sebuah kampung di Blora Jawa Tengah.

“Orangtua punya warung dan saya sejak kecil sudah ikut membantu  memasak,” katanya.

Baginya memasak itu wajib karena sejak sejak SMP hingga di bangku SMA, Fenie selalu membantu untuk memasak dan berjualan di warung orangtuanya.

Ketrampilan dalam memasak ini pun terbawa saat ia harus meninggalkan kampung dan kuliah di Universitas Surabaya (Ubaya). Hanya saja saat kuliah ia mengambil program  D3 Akuntansi.

“Saya kos di kawasan Ngagel Wasana, disitu juga banyak teman teman kos ada yang mahasiswa ada juga yang pekerja,” ungkapnya.

Karena ia sudah mahir memasak, hampir setiap hari ia membuat masakan sendiri. Ketika ada teman temannya yang ikut incip, barulah tahu jika masakan buatan Feie ini cukup enak dinikmati.

“Ya  kebetulan ada teman yang juga suka memasak, jadilah kita masak bareng bareng,” tukas Fenie yang lahir di Madiun, 19 Oktober 1966.

Namun ada dari beberapa teman kosnya yang ingin juga dibuatkan masakan oleh Fenie. “Biasa sih bikin masakan seperti sayur sup, kadang bikin sate dan ternyata ada teman-teman yang suka dengan masakan ini,” ujarnya.

Dari sinilah Fenie akhirnya juga memasakan teman-temannya, ada 5 orang temannya yang saat itu titip untuk dibuatkan masakan Fenie. “Katering kecil kecilan,  karena ada teman yang ikut titip dibuatkan makanan dari masakan saya,” lanjutnya.

Tidak terasa ada 10 rantang yang kini setiap hari harus disiapkan Fenie, saat ia pindah kos di kawasan Manyar Rejo, katering Fenie ini masih diminati teman temannya. Permintaan rantang pun meningkat kini ada sekitar 40 rantang.

“Pagi dan siang menyiapkan katering, sorenya kuliah,” tandas  wanita kelahiran Madiun dan besar di Blora.

Rela Tinggalkan Kuliah Demi 1000 Rantang

Keunikan dan kelezatan masakan Fenie dengan khas masakan Jawa Tengah membuat teman-temannya kepincut dengan olah rasa masakan buatannya.

Dari mulut ke mulut katering made in Fenie ini makin dikenal, dan ini berimbas pada pendidikan yang sedang ia lakoni di Ubaya. “Semester 5 saya berhenti karena katering makin ramai,” katanya tertawa.

Bahkan ia kini dibantu dua orang asisten harus menyediakan sekitar 1000 rantang katering setiap hari. “Saya antar dengan becak, ada yang sekitar Manyar Rejo sampai di kos lama Ngagel Wasana,” ujarnya.

Pelanggan lainnya juga ada yang dari UK Petra, Universitas Widya Mandala, anak anak Ubaya sendiri hingga staf PT Kedaung Subur di Rungkut.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved