Omset Meningkat, Perajin Sangkar Burung di Gresik Bantu Berdayakan Para Korban PHK

Shodiq, perajin sangkar burung di Gresik mampu memberdayakan sejumlah tetangganya yang menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Editor: Akira Tandika
SURYA/Willy Abraham
Shodiq perajin sangkar burung di Dusun Karang Asem, Desa Karang Semanding, Kecamatan Balongpanggang, Minggu (4/7/2021). 

SURYAWIKI, GRESIK - Shodiq, perajin sangkar burung di Gresik mampu memberdayakan sejumlah tetangganya yang menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Hal ini untuk memenuhi permintaan sangkar burung yang naik selama masa pandemi Covid-19.

Warga Dusun Karangasem, Desa Karang Semanding, Kecamatan Balongpanggang ini akhirnya menyulap halaman teras rumahnya sebagai tempat untuk membuat sangkar burung. Sejumlah alat untuk memperhalus kayu berada di parkiran.

Para pekerjanya adalah tetangganya sendiri. Total ada 10 pekerja yang mengerjakan sangkar burung. Sebab, selama pandemi Covid-19, dia kewalahan memenuhi permintaan dari luar Gresik.

Lonjakan pesanan sangkar burung, membuat Shodiq harus mendorong tenaga kerja para tetangga. Apalagi kebanyakan mereka merupakan pengangguran yang baru diputus kerja di perusahaan tempatnya masing-masing bekerja. Alhasil, pekerjaan yang tak membutuhkan keahlian khusus itu banyak diterima tetangganya.

Menariknya lagi, perajin di desa ini, tidak hanya didominasi kelompok remaja, dan orang tua. Melainkan juga ibu rumah tangga, sebagai sumber penghasilan tambahan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

Produk sangkar burung buatan desa ini paling diburu karena memiliki ciri khas. Bahan sangkar terbuat dari kayu jati membuat produk ini banyak digemari.

"Saya menjaga kualitas kayu, ini dari limbah kayu jati pabrik," terangnya.

Pesanan sangkar burung tidak hanya berasal dari Gresik maupun luar daerah. Rata-rata pemesan, bagi mereka yang hobi memelihara burung serta menghiasi rumah. Sangkar burung dianggap, menjadi hiasan menarik jika diletakan di teras rumah.

"Kebanyakan adalah pecinta burung berasal dari Madura, Semarang, Jakarta, Medan, dan Makasar," kata dia.

Omset penjualan seorang perajin rata-rata mencapai 40 unit per bulan. Dengan harga jual kisaran Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu per unit. Tergantung tingkat kerumitan dan kesulitan.

Jika sebelum pandemi, permintaan hanya sekitar 10 sampai 20 saja.

"Permintaan meningkat, memang dari segi kualitas saya ambil limbah dari pabrik kayu. Batang jeruji kayu apus saya ambil dari Lumajang. Kemudian limbah kayu jati," tuturnya.

Dengan diberi nama merk Shodiq, sangkar burung buatannya laris di pasaran. Dia juga menjual secara online melalui media sosial facebook.

Yahya Darmawan, pembeli sangkar burung asal Balongpanggang mengaku ada perbedaan kualitas dari sangkar burung lainnya. Menurut pria 25 tahun ini, perbedaan terletak pada kualitas kayu yang digunakan.

"Kualitas beda dari yang lain, tidak ada sambungan," terangnya. (Willy Abraham)

Sumber: Surya
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved