Makna Motif Kain Furoshiki yang Biasa Digunakan di Jepang

Furoshiki, tak sekadar seni membungkus dengan kain saja. Lebih dari itu, seni ini juga sarat makna lewat kain yang digunakan.

Penulis: Akira Tandika
Editor: Akira Tandika
Dok. Pribadi
Pengajar Ilmu dan Budaya Tradisional Jepang Junko Tsutsumi saat menunjukkan cara membungkus barang menggunakan kain, atau yang disebut sebagai Furoshiki, pada peserta workshop virtual oleh Galeri Paviliun House of Sampoerna. 

SURYAWIKI, SURABAYA - Furoshiki, tak sekadar seni membungkus dengan kain saja. Lebih dari itu, seni ini juga sarat makna lewat kain yang digunakan.

Setiap kain yang digunakan dalam Furoshiki memiliki pesannya tersendiri. Sehingga, masyarakat Jepang memiliki beberapa kain untuk Furoshiki yang memiliki motif, warna, dan bahan berbeda. Tergantung pada siapa yang akan menerima bungkusan Furoshiki tersebut.

"Biasanya, Furoshiki memiliki berbagai macam desain motif. Ada yang fokus di tengah, di samping, mendatar, dan masih banyak lagi," terang Pengajar Ilmu dan Budaya Tradisional Jepang Junko Tsutsumi, dalam workshop virtual yang digelar Galeri Paviliun House of Sampoerna.

Ada pula beberapa motif yang paling banyak digunakan seperti, Tsuru-Kame (kura-kura) disimbolkan sebagai hewan berumur panjang, dan Chiku-Bai (pinus, bambu, atau plum) disimbolkan sebagai tumbuhan yang membawa kebahagiaan.

"Untuk kain Furoshiki, memang paling banyak memiliki motif hewan dan tumbuhan, serta dengan pesan-pesan dan doa bahagia," tuturnya.

Beberapa motif lain yang terkenal untuk Furoshiki di antaranya, Asanoha Mon-Yoh (motif daun rami) melambangkan kehidupan yang sehat dan kuat lantaran tumbuhannya bisa tumbuh hingga satu atau dua meter, Seigaha Mon-Yoh (motif ombak) melambangkan kehidupan yang damai di masa depan, Uroko Mon-Yoh (motif sisik) sebagai pelindung atau jimat agar terhindar dari roh jahat, dan masih banyak lagi.

"Terakhir adalah warna Furoshiki. Biasanya menggunakan empat warna yang melambangkan musim di Jepang," jelasnya.

Furoshiki merupakan teknik membungkus paling tua di Jepang. Pada Zaman Edo Furoshiki biasanya digunakan untuk membungkus pakaian saat berada di pemandian umum.

"Namun, seiring perkembangan zaman, Furoshiki banyak digunakan untuk membungkus makanan atau bekal yang akan diberikan pada keluarga, teman, dan lain sebagainya," tutupnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved