Mengenal Furoshiki, Teknik Membungkus Ramah Lingkungan asal Jepang

Di Jepang, teknik membungkus bernama Furoshiki telah ada sejak lama. Bahkan, Furoshiki dikenal sebagai teknik paling tua yang pernah dikenal.

Penulis: Akira Tandika
Editor: Akira Tandika
Dok. Pribadi
Pengajar Ilmu dan Budaya Tradisional Jepang Junko Tsutsumi saat menunjukkan teknik Furoshiki dalam workshop online yang digelar Galeri Paviliun House of Sampoerna. 

SURYAWIKI, SURABAYA - Di Jepang, teknik membungkus bernama Furoshiki telah ada sejak lama. Bahkan, Furoshiki dikenal sebagai teknik paling tua yang pernah dikenal.

Pengajar Ilmu dan Budaya Tradisional Jepang Junko Tsutsumi menerangkan, pada Zaman Edo Furoshiki biasanya digunakan untuk membungkus pakaian saat berada di pemandian umum.

"Namun, seiring perkembangan zaman, Furoshiki banyak digunakan untuk membungkus makanan atau bekal yang akan diberikan pada keluarga, teman, dan lain sebagainya," terangnya dalam workshop virtual yang digelar Galeri Paviliun House of Sampoerna.

Menurut Tsutsumi, ketenaran Furoshiki kemudian makin menurun sejak masyarakat terbiasa menggunakan kendaraan untuk mengantarkan barang. Juga tak jarang, banyak yang beralih menggunakan tempat pembungkus lain seperti, paper bag, kardus, dan lain sebagainya.

"Mengapa bisa begitu? Karena apabila seseorang datang langsung berkunjung ke rumah sanak saudara, mereka akan membawa barang dengan menggunakan furoshiki. Namun, ketika kendaraan mulai banyak digunakan, mereka beralih ke tempat yang dianggap lebih aman," jelasnya sambil mempersiapkan alat dan bahan yang digunakan untuk materi pembelajaran.

Dalam workshop virtual itu, peserta hanya perlu mempersiapkan scarf persegi atau taplak meja. Bisa dalam berbagai ukuran, tapi terpenting harus yang bisa muat digunakan untuk membungkus tempat makan atau botol minuman.

Tsutsumi melanjutkan, di Jepang Furoshiki biasanya tersedia dalam beragam ukuran. Mulai dari ukuran 50 sentimeter persegi untuk kotak bekal, 70 sentimeter persegi untuk belanja, dan ukuran 100 sentimeter persegi untuk tas.

Teknik mengikat paling dasar, menjadi pembuka materi pelatihan seni Furoshiki yang diajarkan Tsutsumi.

"Hal pertama, tentu saja kain persegi yang dibentangkan secara diagonal di atas meja. Letakkan tempat makan atau bekal persis di tengah kain," ujar Tsutsumi saat memulai pelatihan.

Kemudian, tarik ujung kain bagian bawah hingga menutup kotak bekal dan dilanjut dengan ujung kain bagian atas.

"Ambil bagian sisi kanan dan kiri untuk diikat membentuk simpul sejajar. Usahakan simpul tersebut sejajar, agar tidak mudah terlepas. Kalau dalam prosesnya, simpul masih menghadap ke atas dan bawah, lebih baik diulang lagi," paparnya.

Tsutsumi juga mencoba membuat bungkus untuk kotak makan berbentuk bulat. Bagi mereka yang tidak terbiasa, bentuk ini dinilai terlalu susah.

Untuk membungkus kotak makan berbentuk bulat, teknik pertama yang dilakukan adalah tetap membentangkan kain berbentuk diagonal, dan meletakkan kotak makan bulat, tepat berada di tengah.

"Ada perlakuan berbeda untuk kotak berbentuk bulat yakni, ujung kain atas dan bawah disejajarkan ke atas, kemudian ujung kain sisi kanan dan kiri diputar mengitari kain yang mengarah ke atas. Setelah itu kain yang atas diikat membentuk simpul kecil," katanya.

Menurut Tsutsumi, membungkus barang tidak terlalu susah. Paling penting, mengetahui teknik yang akan digunakan lebih dulu.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved