Sempat Dianggap Tanaman Parasit, Ini Kisah Petani Lumajang Merintis Budidaya Kapulaga

Warti (63) sebenarnya tak tahu apa-apa soal khasiat secara pasti Kapulaga.Kala itu, Warti mendengar kapulaga bisa menjadi prospek menjanjikan.

Editor: sulvi sofiana
SURYA
Yanto suami Lestari saat menunjukkan proses menjemur kapulaga sebelum diantar ke pengepul. (Tony Hermawan) 

Namun, baginya, petani harus makmur dan berdikari.

Cerita bermula pada medio 2000-an.Kala itu, Warti mendengar kapulaga bisa menjadi prospek menjanjikan.

Harga kapulaga diprediksi setiap tahun bisa naik secara berkala. Takdir kemudiannya membawanya ke Desa Plambang, Kecamatan Pasrujambe, Lumajang. Di desa itu dia mendapat bibit kapulaga.

Bibit itu, kemudian ia coba tanam di pekarangan rumahnya di Dusun Sucho, yang masih masuk dalam kawasan Pasrujambe.

Sebenarnya, sebelum Warti bereksperimen membudidaya kapulaga, ia sempat mengajak petani kopi lain di desanya. Namun, ajakan Warti malah diragukan warga. Kapulaga malah dianggap tanaman berbahaya.

"Kapulaga menanamnya pakai cara tumpang sari. Ditanam di sebelah pohon pisang atau kopi. Warga waktu itu gak ada yang mau, karena katanya bisa mematikan tanaman lain," kenangnya.

Namun, Warti tetap kekeh pada pendiriannya. Dia percaya kapulaga kelak bisa menjadi inti dari usaha tani.

Tiga bulan sudah waktu yang ditunggu-tunggu Warti tiba. Setelah memberi perawatan terbaik bibit kapulaga masuk musim panen. Dari setengah hektar bidang, dia mendapat hasil 40 kilogram.

Hasil panen kapulaga itu kemudian dia keringkan selama 4 hari. Lalu, kapulaga yang sudah kering diantar ke tempat pengepul. Waktu itu, dia kaget. Oleh pengepul per 1 kilogram kapulaga dihargai Rp 25 ribu.

Hasil itu baginya sangat menguntungkan. Dia yang sebelumnya menjadi petani kopi mengaku harga kapulaga jauh lebih baik.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved