Leonika Masifkan Donor Plasma Konvalesen Lewat ReBlood

Ingin menyelamatkan banyak nyawa masih menjadi cita-cita yang selalu disematkan dalam setiap langkah dan karya Leonika Sari Njoto Boedioetomo.

Editor: sulvi sofiana
Dokumen pribadi
Leonika Sari Njoto Boedioetomo CEO dan Founder Start Up Reblood, yang membantu memudahkan donor darah dan donor plasma konvalesen. 

SURYA WIKI, Surabaya - Ingin menyelamatkan banyak nyawa masih menjadi cita-cita yang selalu disematkan dalam setiap langkah dan karya Leonika Sari Njoto Boedioetomo.

Meski bukan seorang dokter atau tenaga kesehatan, namun Leo yang masih berusia 26 tahun itu kini telah berkontribusi nyata dalam menyelamatkan banyak nyawa terutama di masa pandemi covid-19.

Dengan start up besutannya yaitu Reblood, Leo telah banyak berperan di masa pandemi dengan aktif menggerakkan masyarakat untuk berdonor darah, dan yang tak kalah penting menggerakkan penyintas covid-19 untuk mendonorkan plasma konvalesen.

Kembangkan Reblood Sejak 2015

CEO dan Founder Reblood ini menjelaskan, Reblood sudah ia kembangkan sejak tahun 2015 lalu.

Bahkan aplikasi ini sempat mengantarkan Leo masuk dalam jajaran pemudi sukses berprestasi dalam 30 Under 30 versi Majalah Forbes.

Kembangkan Fitur Donor Kovalesen

Kemudian, dengan adanya pandemi covid-19 dan melihat kondisi dimana pasien bergejala berat kerap kesulitan mendapatkan plasma konvalesen, maka lulusan Sistem Informatika ITS Surabaya ini mengembangkan fitur baru di Reblood khusus untuk donor plasma konvalesen.

"Awalnya aku mengembangkan fitur donor plasma konvalesen karena melihat kebutuhan plasma konvalesen yang meningkat saat pandemi. Tapi di sisi lain masih kurang edukasi terkait donor plasma konvalesen bagi penyintas. Mulai apa bedanya dengan donor darah reguler, syaratnya apa saja, prosesnya gimana dan banyak lagi," kata Leo, pada Surya, Rabu (22/9/2021).

Maklum, pandemi covid-19 sendiri adalah era baru yang juga awam bagi semua orang. Sehingga edukasi dan menggerakkan para penyintas untuk donor plasma konvalesen menjadi kunci utama.

Karena itu, Leo kemudian membangun fitur baru dalam Reblood khusus donor plasma konvalesen sekaligus membangun kolaborasi dalam tiga hal.

Fitur Pendaftarn Donor Plasma Kovalesen

Yang pertama yaitu mengembangkan fitur pendaftaran donor plasma konvalesen dengan pengecekan syarat secara mandiri melalui aplikasi digital besutannya yaitu Reblood.

Pendaftar yang memenuhi syarat akan diarahkan untuk mengikuti screening donor plasma konvalesen di unit nonor darah (UDD) PMI yang menyediakan fasilitas donor plasma konvalesen. Karena sejauh ini baru sekitar 48 dari 228 UDD PMI yang bisa memfasilitasi donor plasma konvalesen.

Berikan Reward Pada Pendonor

Kedua, ia juga berkolaborasi dengan instansi, organisasi, komunitas untuk mendorong lebih banyak penyintas untuk mendonorkan plasma konvalesen dengan menerapkan program reward voucher belanja yang ada di Reblood. Program reeward itu diberikan bagi yang mengeikuti screening maupun yang berhasil donor plasma konvalesen.

Mengapa yang baru screening juga sudah diberi reward? Karena menurut Leo, pendonor plasma konvalensen perlu datang ke unit donor darah PMI sebanyak dua kali. Dengan waktu donor minimal 1 jam. Durasi ini berbeda dengan donor darah reguler yang hanya butuh waktu 10-20 menit.

"Dan yang tak ketinggalan kami berkolaborasi dengan PMI dalam hal integrasi data pendonor. Agar pendonor bisa mengetahui total donor plasma konvalesennya serta kapan tanggal donor berikutnya," urai Leo yang dulu sempat bercita-cita menjadi dokter ini.

Biasanya untuk pendonor plasma konvalesen bisa donor kembali setelah 14 hari setelahnya.

Bantu Lebih Dari 1.000 Pendonor

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved