Yesti Rambu Jola Pati,Bekerja Sebagai ART Hingga Jadi Sarjana

Yesti Rambu Jola Pati menjadi satu diantara lulusan Universitas Dr. Soetomo Surabaya (Unitomo) dari program studi S1 Matematika.

Editor: sulvi sofiana
humas Unitomo
Yesti Rambu Jola Pati wisudawan dari program studi S1 Matematika saat bersama dosennya di Fakultas Keguruan dan Pendidikan, Moh. Hatip di Dyandra Convention Center Surabaya. 

SURYA WIKI, Surabaya - Yesti Rambu Jola Pati menjadi satu diantara lulusan Universitas Dr. Soetomo Surabaya (Unitomo) dari program studi S1 Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Dibalik keberhasilan yang ia raih untuk bisa menjadi sarjana dengan raihan IPK 3,49. Terdapat perjuangan yang berat yang harus dilalui Yesti.

Perempuan asal Nusa Tenggara Timur ini harus bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) untuk bisa menjadi sarjana.

Sebelum menjadi sarjana, Yesti punya keinginan kuat untuk merubah nasib. Ia pun merantau di Surabaya untuk sekedar mencari pekerjaan. Sesampai Yesti di Nginden Barat ia bekerja sebagai ART.

"Saya melihat ada kampus dekat dengan tempat kerja saya, saya coba cari informasi di internet tentang kampus Unitomo saya lihat ada kuliah pagi dan malam," ungkap Yesti saat ditemui SURYA.co.id, Sabtu (25/9/2021).

Berawal dengan keterbatasan biaya untuk membayar uang kuliah, Yesti terus berjuang dan mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk bisa melunasi biaya kuliah dengan cara mencicil.

"Saya dibantu oleh satpam kampus, saya diantar ke kasir dikasih brosur dari pihak kampus sendiri mengatur uang saya yang 2,5 juta itu diapakan agar saya bisa kuliah," ungkap Wanita kelahiran 1994 ini.

"Puji tuhan waktu itu saya dipertemukan dengan orang-orang baik sehingga uang yang ada di tangan saya cukup untuk biaya pendaftaran," imbuhnya. 

Perjuangan dia tidak hanya itu, Yesti sempat cuti 2 tahun dikarenakan uang yang seharusnya untuk kuliah digunakan untuk membiayai adik dan kakaknya di Kupang.

"Uang saya tidak cukup karena kakak saya yang satu orang mau wisuda dan saat itu kakak saya membutuhkan biaya banyak, saya harus membantu.Orang tua saya hanya petani penghasilannya hanya cukup untuk makan dalam beberapa hari, jadi saya harus bantu, saya mengalah lalu saya berhenti kuliah sementara," imbuhnya.

Dengan beberapa kali mencoba tegar untuk bisa tetap lanjut kuliah hingga sarjana, Yesti meminta izin untuk melanjutkan kuliah dengan majikannya, ternyata diperbolehkan untuk mengambil kelas sore.

"Saya coba lagi untuk izin ke bos dan ternyata diperbolehkan kuliah, ya walaupun saat itu ada penolakan dari teman-teman kerja. Mereka tidak inginkan saya kuliah sambil kerja tapi karena bosnya baik, bos tetap pertahankan saya untuk kuliah sambil kerja," imbuhnya.

Ahmad Hatip sebagai Pembimbing skripsi yang mendorong dan menyemangati Yesti agar benar-benar dapat menyelesaikan masa studi di Unitomo

Ia memberi semangat dan bimbingan agar Yesti menyelesaikan tahap akhir perkualiahan yaitu skripsi.

"Dia semangatnya luar biasa, motivasinya tinggi saat saya bilang Yesti semester ini adalah semester batas akhir masa studimu.Tolong jangan disia-siakan pengorbanan yang sudah kamu kakukan sampai sejauh ini," pesannya.

Yesti bercerita berhasil menyelesaikan skripsinya sekaligus mencari data dengan waktu kurang lebih 4 bulan pengerjaan.

"Puji Tuhan, dari pihak kampus masih berikan saya kesempatan kuliah, saya ingat saat dibantu sama Bu Lusi dan Pak Hatip, Pak Hatip bantu saya pertemukan saya dengan Warek II," jelasnya.

Wanita angkatan tahun ajaran 2014 ini menempuh perjuangan perkuliahan untuk menggapai cita-citanya dan dapat berkontribusi untuk tanah lahirnya yaitu NTT.

"Sembari saya bekerja disini, saya juga menunggu ada info lowongan pekerjaan di tempat asal saya di NTT, kalau bisa saya ingin bekerja sebagai guru matematika di NTT," pungkas Yesti.

(Mohammad Zainal Arif )

 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved