Hafidz Sirojul Munir, Angkar Budaya Banyuwangi Lewat Desain Sepatu

Mahasiwa S1 Desain Produk Universitas Dinamika, Hafidz Sirojul Munir telah membuat sepatu heels dengan mengangkat salah satu ikon budaya di Banyuwangi

Editor: sulvi sofiana
Dokumen pribadi
Mahasiwa S1 Desain Produk Universitas Dinamika, Hafidz Sirojul Munir menunjukkan Sepatu Heels buatannya yang mengangkat salah satu ikon budaya di Banyuwangi Jawa Timur bernama Gandrung Shoes 

SURYA WIKI, Surabaya - Mahasiwa S1 Desain Produk Universitas Dinamika (Undika), Hafidz Sirojul Munir telah membuat sepatu heels dengan mengangkat salah satu ikon budaya di Banyuwangi Jawa Timur. 

Sepatu dengan perpaduan corak warna mustard dan merah ini diberi nama Gandrung Shoes.

“Saya mengangkat konsep Tari Gandrung dan Motif Batik Gajah Oling yang merupakan budaya dan ikon dari Banyuwangi,” kata Hafidz sapaan akrabnya kepada SURYA.co.id, Jumat (1/10/2021).

Tari Gandrung sendiri merupakan perwujudan rasa kagum terhadap Dewi Sri, yakni dewi padi atau pembawa kesejahteraan saat panen tiba.

Sehingga warna yang digunakan untuk sepatu ini lebih elegan saat pemakaian. Hafidz juga menjelaskan penggunaan motif Batik Gajah Oling ini untuk mengedepankan estetika pemakai Gandrung Shoes. 

Apalagi batik tersebut menggambarkan jati diri masyarakat Banyuwangi yang dulu merupakan bekas Kerajaan Blambangan.

“Jadi sepatu ini bisa digunakan pada momen-momen pesta, semi formal maupun formal, yang cocok digunakan wanita pada usia 21-30 tahun,” katanya.

Dalam proses pembuatannya, Hafidz membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan, adapun pembaruan yang ditawarkan dari inovasi ini adalah model dan desain pada heels yang tidak bisa ditemukan di pasaran. 

Pada bagian heels terdapat grafir atau ukiran motif Batik Gajah Oling yang dapat menambah kesan etnic.

Ia berharap inovasinya dapat diminati banyak masyarakat luas sehingga masyarakat lebih mengenal budaya Banyuwangi yakni tarian Gandrung yang jarang terekspos.

Sementara itu, Pembimbing sekaligus Dosen Despro Undika, Muhammad Charis menilai ide pembuatan Gandrung Shoes sangat unik. 

Menurutnya, banyak kekayaan lokal seperti tarian, batik dan lainnya kurang banyak didesain untuk suatu produk.

“Karya ini bisa menghidupkan budaya lokal yang berkelanjutan,” kata Charis.

Ia menyampaikan pada mata kuliah tertentu setiap mahasiswa akan diberikan tugas untuk membuat inovasi dengan prinsip menghidupkan budaya Indonesia. 

Dengan catatan yang mengikuti tren, kebutuhan dan selera masyarakat pada masa itu.

Charis akan terus berupaya mendorong Mahasiswa Despro Undika untuk lebih berani dan percaya diri dalam berkarya, karena setiap mahasiswa pasti memiliki kemampuan yang unik, menarik sesuai dengan karakteristiknya.

“Saya rasa membangun tekad dan kepercayaan diri pada mahasiswa sangat diperlukan, dan tentunya Undika akan selalu mendukung," katanya.

"Salah satunya merekomendasikan mahasiswa mengikuti perlombaan baik di kancah nasional maupun internasional,” tutupnya.

(Sulvi Sofiana)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved