Cara Maia Lan dan Rafli Tularkan Gaya Hidup Zero Waste Sambil Keliling Indonesia Naik Sepeda

Konsep zero waste menjadi gaya hidup yang diterapkan perempuan asal Spanyol Maia Lan dan Rafli Purnama. 

Editor: sulvi sofiana
Dokumen pribadi
Maia Lan dan Rafli, keliling Indonesia naik sepeda kampanyekan Zero Waste 

SURYA WIKI, Surabaya - Konsep zero waste menjadi gaya hidup yang diterapkan perempuan asal Spanyol Maia Lan dan Rafli Purnama. 

Bukan tren semata, duo bikepackers ini membekali perlengkapan dengan membawa botol minum tumblr, jurigen, hingga kotak-kotak bekal lipat.

Minimalisir Penggunaan Plastik

Alasannya, bisa meminimalisir penggunaan plastik, mengurangi sampah serta mengajak masyarakat yang mereka temui untuk lebih peduli lingkungan.

“Selama ini kita nggak pakai botol maupun kemasan. Udah setahun ini nggak pernah beli kemasan, selalu refill, ada tempat makan, di basechamp kita refill semua botol air minum, nggak pernah beli botol kemasan,” kata Maia yang mulai mahir bahasa Indonesia.

Bertemu Komunitas Peduli Lingkungab

Selama menerapkan gaya hidup tersebut, Maia mengaku banyak bertemu komunitas-komunitas peduli lingkungan.

Mereka saling sharing bahkan mengadakan workshop tentang zero waste lifestyle.

“Kami juga mampir ke bank sampah, TPA, komunitas dan basecamp, biar tau kalau di kota atau daerah yang kita lewati ada bank sampah,” kata dia.

Mereka juga memperhatikan kebiasaan masyarakat sekitar maupun keadaan alam yang dikunjungi.

Edukasi Masyarakat

Maia dan Rafli mengaku cukup memahami orang-orang yang mungkin mengerti tentang zero waste, namun intensitas penggunaannya masih dalam kategori jarang.

Misalnya, beberapa warga sudah bisa memilah sampah organik, non organik dan  menggunakan bank sampah.

Namun dalam keseharian masih menggunakan kemasan plastik.

Edukasi Pengelola Tempat Wisata

Perhatian terhadap gaya hidup zero waste ini, mereka edukasikan ke banyak pihak. Termasuk pengelola tempat-tempat wisata yang mereka kunjungi.

“Kami suka menikmati alam, kalau di mana-mana ada sampah kan jelek. Misalkan air yang kotor kita juga minum, atau ada hewan makan sampah. Kalau alam rusak ya kita rusak. Kita bawa kampanye ini memperlambat kerusakan bumi,” jelas Maia.

Saat mengeksplore wisata di Jawa Timur, Maia dan Rafli mengaku cukup lega dengan adanya tempat sampah di lokasi wisata. Sebut saja di Air Terjun Kapas Biru.

Namun, dalam pendapat mereka, akan lebih bijak jika wisatawan yang membawa sampah ke air terjun bisa membawa kembali sampah mereka dan membuangnya di tempat sampah post terdekat.

“Kalau di area air terjun, nanti harus ada satu orang ambil berapa kilo itu trus jalan lagi,” kata Maia.

Edukasi tentang zero waste juga dilakukan kepada pengelola wisata. Mereka saling sharing di post atau basecamp tentang gerakan tersebut dengan memakai produk ramah lingkungan dan mengurangi sampah.

“Pengennya dari gaya hidup kita ini menularkan ke orang Lain. Jadi ikut peduli dan mengurangi sampah plastik,” tutup Rafli.

 

(Nurika Anisa)

 

 


 

 


 

 


 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved