Marak Intimidasi Pinjaman Online, Ini 13 Ciri Pinjaman Online Ilegal

Korban layanan pinjaman online (Pinjol) ilegal berbasis aplikasi terkadang harus terjebak untuk melakukan pinjaman lebih dari satu aplikasi.

Editor: sulvi sofiana
SURYA
ilustrasi-fintech 

SURYA WIKI, Surabaya - Korban layanan pinjaman online (Pinjol) ilegal berbasis aplikasi terkadang harus terjebak untuk melakukan pinjaman lebih dari satu aplikasi.

Hal itu disebabkan, besaran bunga pengembalian pinjaman yang cenderung cepat membengkak nominalnya.

Dan diperparah lagi dengan singkatnya durasi waktu pelunasan yang disediakan secara otomatis melalui sistem oleh pihak aplikator pinjol ilegal.

Itulah mengapa, beberapa debitur, nasabah, atau klien yang mengadu ke pihak berwajib karena tak tahan intimidasi oknum debt colector (DC) pinjol ilegal, terkadang terjerat lebih dari satu aplikasi pinjol.

Siklus Pinjaman Berantai

Wakil Direktur Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Zulham Effendy menamai karakteristik pinjol ilegal yang dialami para korbannya semacam itu, sebagai siklus pinjaman berantai. 

Pasalnya, sebagian besar para debitur mengakses lebih dari satu aplikasi pinjol untuk memperoleh pinjaman uang.

Gali lubang tutup lubang. Sepertinya menjadi pemeo yang tepat dalam menggambarkan dinamika para korban tatkala terjerat pinjol ilegal dengan karakteristik kasus semacam itu. 

Mengingat, tenggat waktu pelunasan yang terbilang singkat dari pihak aplikator pinjol illegal. Hal itu membuat para debitur terkadang terpaksa nekat melakukan peminjaman uang kembali dari aplikasi pinjol lainnya, guna menutupi tunggakan tagihan dari aplikasi sebelumnya.

"Contoh, kemarin, ada 1 ibu-ibu, dia pinjam uang, dari pinjaman awal sudah naik 5 kali lipat, dan dia gali lubang tutup lubang, sistemnya," katanya saat dihubungi TribunJatim.com, Minggu (1710/2021).

Modus PInjol Ilegal

Mantan Kepala Bagian Pengendalian Personel (Kabagdalpers) Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Polda Jatim itu mengungkapkan, terdapat 13 modus praktik curang yang sering dilakukan aplikator pinjol ilegal yang menyalahgunakan data pribadi kliennya.

1) Besaran bunga pengembalian pinjaman yang cenderung tinggi, bahkan tanpa batasan

2) Proses penagihan yang dilakukan pada kontak si peminjam atau debitur (message blasting)

3) Penagihan disertai ancaman fitnah, penipuan, hingga pelecehan seksual

Zulham mengungkapkan, beberapa kasuistik yang sedang didalaminya, menunjukkan bahwa para oknum DC akan memanfaatkan pesona penampilan fisik dalam menghasut kliennya.

Karakternya lazim digunakan pada orang-orang yang berpenampilan menarik. Jikalau korbannya laki-laki, maka aplikator memanfaatkan peran DC berjenis kelamin wanita, begitu juga sebaliknya.

Siasat itu, biasanya bersamaan dengan praktik pelecehan secara seksual, yang tentunya acap menyasar klien wanita. 

"Makanya di sini ada juga pelecehan. Mungkin di-vidcall (video call) sama mereka. Kemudian vidcall itu di-screenshot seolah-olah ada perselingkuhan," jelasnya.


4) Proses penagihan dengan ancaman penyebaran data pribadi

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved