Dosen Vokasi Unair Kembangkan Aplikasi untuk Cek Risiko Osteoporosis Secara Mandiri

Deteksi dini suatu penyakit menjadi Langkah preventif yang perlu dilakukan. Tak terkecuali deteksi dini pada Osteoporosis.

Editor: sulvi sofiana
Dokumen pribadi
Aplikasi ATOs_A yang dibuat oleh dosen Program Studi Teknologi Pencitraan Fakultas Vokasi (FV) Universitas Airlangga. 

SURYA WIKI, Surabaya – Deteksi dini suatu penyakit menjadi Langkah preventif yang perlu dilakukan. Tak terkecuali deteksi dini pada Osteoporosis atau kondisi tulang yang rapuh yang termasuk dalam kategori silent disease.

Bukan tidak mungkin, kini penilaian risiko penyakit Osteoporosis dapat dengan mudah dilakukan secara mandiri menggunakan aplikasi bernama ATOs_A. 

 

Aplikasi Pengukur Dosis Radiasi

ATOs_A atau Airlangga’s Tool for Osteoporosis Assessment merupakan inovasi gagasan para dosen Program Studi D4 Teknologi Pencitraan Fakultas Vokasi (FV) Universitas Airlangga. Proses pembuatannya diketuai oleh dr Lailatul Muqmiroh, SpRad(K) melibatkan mahasiswa dan alumni.  

“Awalnya kami ingin membuat inovasi digital sebagai luaran kegiatan pengmas yang didanai oleh Unair. Inovasinya merujuk pada beberapa alat assessment sederhana berupa aplikasi untuk mengukur dosis radiasi pada CT Scan dengan cara yang mudah dan bisa diakses secara digital,” urainya. 

Laila sapaannya, menuturkan bahwa aplikasi untuk mengukur kesehatan saat ini sebenarnya cukup banyak. Seperti pengukur tekanan darah atau pengukur jarak tempuh saat olahraga. 

Meski demikian, kata Laila, ATOs_A memiliki kriteria yang lebih detail dibandingkan dengan aplikasi serupa.

Tiga Fitur Utama

Setidaknya terdapat tiga fitur utama yang membuatnya istimewa. Yakni kalkulator untuk menentukan kriteria, fitur saran, serta dilengkapi dengan tips dan trik. 

“Pengguna hanya perlu mengisi tiga data untuk mengetahui risiko Osteoporosis. Di antaranya yakni usia, berat badan, dan jenis kelamin”lanjutnya.

Kemudian hasil penilaian akan muncul. Pengguna akan dikategorikan berisiko rendah, sedang, atau tinggi. “Ketika hasilnya muncul, ada saran sesuai klasifikasi hasil penilaian. Misal ketika termasuk berisiko tinggi, maka sebaiknya segera melakukan pemeriksaan BMD,” jelas Laila.

Tersedia di Play Store

Aplikasi yang dibuat pada pertengahan Mei 2021 itu kini dapat diunduh melalui Play Store. Selain itu, Laila dan tim akan segera mendaftarkan Hak Karya Cipta atas ATOs_A.

Sementara ini, ATOs_A hanya dapat melakukan penilaian Osteoporosis untuk skrining. Untuk diagnosis lebih lanjut, pengguna dapat melakukan pemeriksaan Bone Densitometry. 

“Harapan kami, aplikasi tersebut dapat membantu masyarakat Indonesia untuk mengenal diri sendiri terhadap risiko Osteoporosis. Mencegah lebih baik dari pada mengobati,” tandasnya.

 

(Sulvi Sofiana)

 

 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved