Peran Desa Sangat Penting Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Kota Batu

Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko mengatakan peran desa di Kota Batu sangat penting terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Editor: sulvi sofiana
SURYA
Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko 

SURYA WIKI, Batu -  Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko mengatakan peran desa di Kota Batu sangat penting terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Meskipun kota, namun ada 19 desa di Kota Batu. Dengan adanya desa itu, anggaran dana desa memiliki peran besar.

“Kota Batu ini kota kecil dengan hanya tiga kecamatan. Ada 19 desa dan 5 kelurahan. Satu-satunya Kota di Jawa Timur yang memiliki desa, di mana akhirnya ADD memiliki peran yang besar.

Desa di Kota Batu sudah menjadi desa mandiri semuanya,” ungkapnya saat berbicara di acara webinar dan talkshow nasional dalam rangka HUT ke-20 Kota Batu bersama Tribun Network, Kamis (21/10/2021).

Mayoritas Petani

Dengan adanya ADD, desa memiliki peran menggerakkan perekonomiannya melalui BUMDes. Penduduk Kota Batu mayoritas petani.

Sebagai wilayah pertanian hortikultura, maka hasil pertanian seperti sayur dan buah-buahan menjadi komoditas penting dalam produk ekonomi.

“Luas wilayahnya hampir 200 Km persegi. Jumlah sekarang 220 ribu penduduk. 75 persen itu adalah petani. Sekarang ini, petani yang kemudian agak punya perubahan, adalah petani yang modern. Petani yang bisa punya usaha,” terangnya.

Kota Batu yang terletak di Malang Raya juga menjadi wilayah pengungkit pertumbuhan di wilayah kawasan tengah-selatan Jawa Timur.

Kontribusi terhadap perekonomian Jawa Timur sebesar 7.91 persen. Berdasarkan proyeksi pertumbuhan 2021 dari Bank Indonesia, diperkirakan berada di angka 4.1 persen hingga 5.1 persen.

“Secara umum pertumbuhan ekonomi Malang Raya lebih tinggi dari Jawa Timur dan nasional yang didorong kinerja industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, pertanian dan konstruksi. Konsumsi rumah tangga juga pendorong ekonomi,” tegasnya.

Fokus Pemulihan Ekonomi

Pemkot Batu memfokuskan pemulihan ekonomi yang sempat terpuruk akibat pandemi. Pada 2019, pertumbuhan ekonomi mencapai 6.51 persen.

Begitu diterpa pandemi pada 2020, perekonomian menjadi minus 6.46 persen.

“Tidak hanya itu, pandemi juga meningkatkan jumlah penduduk miskin. Dari 7890 pada 2019, menjadi 8120 di 2020. Selain itu, indeks pembangunan manusia, tahun 2016-2020, menunjukan terjadinya kenaikan angka dari 75.88 menjadi 75.90 pada 2019,” ujarnya.

Dampak itu juga diarasakan pelaku UMKM. Turunnya wisatawan membuat produk UMKM tidak banyak yang terjual.

Sekarang informasi, jumlah wisatawan yang datang ke Kota Batu sebelum pandemi pernah mencapai hampir 8 juta. Ketika pandemi terjadi, jumlahnya turun menjadi 2 juta orang saja.

“Oleh karena itu tantangan besar adalah bagaimana memulihkan perekonomian, terutama produk unggulan, sektor pertanian, pariwisata dan UMKM.

Kesulitan lainnya adalah pemasaran UMKM, juga terbatasnya daya beli masyarakat. Upaya-upaya yang telah dilakukan, antara lain restrukturisasi hutang dan permodalan UMKM kepada perbankan, program digitalisasi usaha UMKM melalui media online dan kemitran kerjasama,” katanya.

(Benni Indo)

 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved