Profesional dari Desa Didorong Kelola BUMDes

Bito Wikantosa mendorong lahirnya para profesional dari desa, kemudian mengabdi di desa lewat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Editor: sulvi sofiana
SURYA
Bito Wikantosa, Staf Ahli Menteri Bid. Pembangunan dan Kemasyarakatan 

SURYA WIKI, Batu - Staf Ahli Bidang Pembangunan dan Kemasyarakatan dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Bito Wikantosa mendorong lahirnya para profesional dari desa, kemudian mengabdi di desa lewat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Secara tersirat, Bito tidak mempersoalkan BUMDes dikelola oleh profesional, namun ia mengingatkan agar profesional yang mengelola BUMDes berasal dari desa setempat.

Hal itu ia sampaikan ketika menjawab pertanyaan Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra di acara webinar dan talkshow nasional HUT ke-20 Kota Batu bersama Tribun Network, Kamis (21/10/2021).

“Bumdes berbadan hukum. Karena milik desa, kaum profesional harus lahir dari desa setempat. Jangan sampai dari daerah luar yang mengembangkan Bumdes, paling tidak warga Kota Batu itu sendiri. Supaya penghasilannya bisa berputar di situ tidak keluar ke Kota Batu,” ujarnya.

Katanya, BUMDes sangat strategis mengembangkan potensi UMKM. BUMDes bisa membangun ekonomi gotong- royong, bersama pemerintah desa dan warganya.

“BUMDes sangat strategis merevitalisasi perekonomian. BUMDes ini juga bisa memberikan nilai tambah yang signifikan bagi perkembangan UMKM. Terutama nilai tambah, misalnya memperantarai produsen UMKM dengan pasar digital,” paparnya.

BUMDes juga bisa berperan menjembatani produsen dengan eksportir. Ataupun menjembatani pelaku usaha dengan konsumen melalui jasa dan produk unggulan.

Misal di Kota batu, ada desa wisata, BUMDes bisa mengelola Desa Wisata, dan menjembatani pelaku usaha dan wisatawan yang mau masuk ke Kota Batu. Bumdes juga bisa menyelenggarakan pemandu wisata profesional,” terangnya.

Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko mengatakan peran desa di Kota Batu sangat penting terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat. Meskipun kota, namun ada 19 desa di Kota Batu. Dengan adanya desa itu, anggaran dana desa memiliki peran besar.

“Kota Batu ini kota kecil dengan hanya tiga kecamatan. Ada 19 desa dan 5 kelurahan. Satu-satunya Kota di Jawa Timur yang memiliki desa, di mana akhirnya ADD memiliki peran yang besar. Desa di Kota Batu sudah menjadi desa mandiri semuanya,” ungkapnya.

Dengan adanya ADD, desa memiliki peran menggerakkan perekonomiannya melalui BUMDes. Penduduk Kota Batu mayoritas petani.

Sebagai wilayah pertanian hortikultura, maka hasil pertanian seperti sayur dan buah-buahan menjadi komoditas penting dalam produk ekonomi.

“Luas wilayahnya hampir 200 Km persegi. Jumlah sekarang 220 ribu penduduk. 75 persen itu adalah petani. Sekarang ini, petani yang kemudian agak punya perubahan, adalah petani yang modern. Petani yang bisa punya usaha,” terangnya.

(Benni Indo)

 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved