Grand Show Tata Busana Universitas Negeri Malang Akan Direkognisi Sebagai Kegiatan MBKM

Pergelaran busana atau grand show karya mahasiswa D3 dan S1 Prodi Tata Busana Universitas Negeri Malang (UM) di ajang Malang Fashion Week (MFW) 2021.

Editor: sulvi sofiana
SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
Model memeragakan rancangan busana mahasiswa Universitas Negeri (UM) Malang dalam Grand Show Tata Busana UM di Trans Mart MX Mall, Kota Malang, Minggu (24/10/2021). 

SURYA WIKI, Surabaya - Pergelaran busana atau grand show karya mahasiswa D3 dan S1 Prodi Tata Busana Universitas Negeri Malang (UM) di ajang Malang Fashion Week (MFW) 2021 hari ketiga, Minggu (24/10/2021).

Di kegiatan ini, mahasiswa memamerkan karyanya dan dinilai juri. Karya mahasiswa dibawakan 36 model profesional.

Adila Apriliyanawati, Ketua Panitia Grand Show Tata Busana di acara itu menjelaskan tajuk yaitu Inception. "Grand show merupakan acara akbar bagi mahasiswa Tata Busana UM untuk berkarya.

Inception artinya titik awal atau permulaan. Ini sebagai titik awal untuk adapsi dan merefleksikan ide dasar karya mereka.

Wakil Dekan III Fakultas Teknik UM, Dr Tri Kuncoro ST MPd menyatakan, acara pergelaran bisa dimasukkan dalam program MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka).

"Acara semacam ini bisa direkognisi dalam program MBKM yang digiatkan Kemendikbud. Ini realitas dimana mahasiswa belajar di kampus dan direalisasikan di grand show yang dihadiri pengunjung. Sehingga karya mereka bisa diakui lebih luas serta berkarya untuk masyarakat," jelas Tri saat memberikan sambutan.

Grandshow Tata Busana UM digelar hibrid dan memperhatikan prokes. Gelar cipta busana menampilkan 174 karya mahasiswa dengan Trend busana 2022/2023. Trend forecasting 2021/2022 memiliki delapan tema besar, yakni; (a) Excessive, (b) Originee, (c) Hyperbolic, (d) Indigenic, (e) Authentic, (f) Adventure, (g) Wanderlust, dan (h) Ethnicity. 

Beberapa desainer mahasiswa UM hadir di preskon. Seperti Agyl Ade Anisa (perwakilan tema Hyperbolic. Lalu Vipi Kurniawan, perwakilan Wanderlust, Aqilla Fadia Asha  sebagai perwakilan Originee dan Aiman Wijaya sebagai perwakilan tema Indigenic. 

Anisa, perwakilan tema Hyperbolic mengeksploitasi berlebihan. "Untuk karakter busananya berlatar belakang dengan warna-warna dan motif yang diperbesar. Siluet-siluet dan aksesoris menonjol. Intinya lebih maksimal," kata dia.

Dari pergelaran tadi juga ada yang mengangkat macaron. Warna busananya khas warna-warna yang kerap dipakai untuk macaron. Ada juga tentang maple. Daun-daun maple jadi motif busana.

(Sylvianita Widyawati)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved