Kampung Ikan Asap, Desa Binaan Pertagas yang Tetap Mengepul di Tengah Pandemi

meskipun pandemi, penjualan ikan asap ke sejumlah pasar tradisional di kawasan Sidoarjo tetap berjalan normal.

Editor: sulvi sofiana
SURYA/MOHAMMAD TAUFIK
Wiji Utami, pekerja di tempat pengasapan ikan di Desa Penatarsewu, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo ketika menata ikan usai dikeluarkan dari tungku pengasapan 

SURYA WIKI, Sidoarjo -  Pandemi yang berjalan lebih dari setahun ternyata tak berpengaruh pada penjualan ikan asap ke sejumlah pasar tradisional di kawasan Sidoarjo tetap berjalan normal.

Para buruh pengasapan ikan di Desa Penatarsewu, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo masih disibukkan dengan kegiatannya selama pandemi.

Wiji Utami sibuk menata ratusan ikan di atas rak bambu. Persis di sebelah tungku pengasapan, perempuan berjilbab ini tampak cekatan menata ikan-ikan yang baru dikeluarkannya dari dalam tungku.

Beberapa saat kemudian, Utami mengambil ikan mentah untuk dimasukkan ke dalam rak panggangan kosong setelah ikannya diangkat. Hawa panas dari tungku api yang hanya berjarak beberapa centimeter di depannya seolah tak terasa.

"Sudah bertahun-tahun bekerja begini. Selama pengasapan memang harus terus dijaga, dibolak-balik ikannya supaya tidak gosong," ujar buruh di tempat pengasapan ikan di Desa Penatarsewu, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo ini di sela kesibukannya, Minggu (24/10/2021).

Di luar ruang pengasapan, terlihat beberapa perempuan sibuk membersihkan ikan mentah. Ikan Mujaer, Nila, Bandeng, dan beberapa jenis ikan yang baru datang dari tambak itu dibersihkan satu persatu.

Sisiknya dikerok menggunakan pisau, kemudian bagian bawahnya disodet lalu kotorannya dikeluarkan. Ikan yang sudah bersih itu siap dimasukkan ke panggangan atau tungku pengasapan.

"Setiap hari rata-rata 80 kilogram sampai satu kwintal. Ikannya semua dari tambak," kata Kodiyah, pemilik tempat pengasapan ikan tersebut di sela kesibukannya membantu membersihkan ikan bersama beberapa pegawainya.

Menurutnya, pandemi covid-19 tidak begitu berpengaruh terhadap bisnis yang dijalaninya. Penjualan ikan asap ke sejumlah pasar tradisional di kawasan Sidoarjo tetap berjalan normal.

"Sempat ada penurunan, tapi tidak seberapa. Penjualan ikan asap di pasar-pasar setahu saya semuanya normal," lanjut perempuan yang sudah 20 tahun menekuni usaha pengasapan ikan tersebut.

Bukan hanya Kodiyah, sejumlah pengasap ikan lain di Penatarsewu juga merasakan hal yang sama. Dari sekira 80 tempat pengasapan ikan di sana, hampir semuanya tidak terkendala. Kampung ikan asap tetap mengepul selama pandemi.

Kepala Desa Penatarseweu, Choliq, menyebut bahwa hampir semua tempat pengasapan di desanya merupakan binaan PT Pertamina Gas (Pertagas). Total produksinya mencapai kisaran 13 ton ikan asap setiap hari.

Sejak tahun 2017 Pertagas mengucurkan dana CSR-nya ke Penatarsewu. Membantu pembuatan cerobong dan tungku pengasapan, memperbaiki lantai, dan memberikan sejumlah peralatan untuk para pelaku UMKM pengasapan ikan di sana.

"Juga ada beberapa bantuan lain. Seperti pemberian pinjaman modal dengan bunga ringan untuk usaha pengasapan ikan, pembangunan resto apung, penanganan sampah desa, dan sebagainya," urai Choliq.

Resto Apung dikelola oleh BUMDes. Meski selama pandemi harus tutup, tempat makan yang instagramable itu berhasil bertahan dengan sejumlah terobosan.

Seperti melayani pesanan catering, menambah upaya bisnis lewat jualan online, dan sebagainya.

"Kami sangat bersyukur bisa tetap bertahan. Delapan karyawan tetap bisa gajian setiap bulan, dan resto juga tetap bisa berjalan meski dengan sejumlah keterbatasan," ujar Arif, pengelola BUMDes Penatarsewu.

Sektor lain yang justru berkembang pesat adalah penanganan sampah desa melalui budidaya Maggot Black Soldier Fly (BSF).

"Budidaya maggot juga merupakan binaan Pertagas. Dan ini yang sekarang lagi meningkat pesat dibanding sektor lain yang ditangani BUMDes Penatarsewu," kata Sekdes Penatarsewu, Heriyanto.

Sampah rumah tangga dari seluruh warga Penatarsewu dikumpulkan di tempat itu. Kemudian dipilah. Sampah organik seperti sayuran, buah, bekas makanan, dan sebagainya disisihkan untuk digiling digunakan untuk budidaya maggot.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved