Sempat Divonis Tidak Bisa Tinggi, Muhammad Hendri Firdaus Mendapat Panggilan Timnas Hoki Indonesia

Enam tahun lalu, Muhammad Hendri Firdaus masih harus minum obat usai divonis pertumbuhannya terganggu karena tidak bisa tinggi.

Editor: sulvi sofiana
Dokumen pribadi
Muhammad Hendri Firdaus saat berlaga di PON XX Papua. 

SURYA WIKI, Surabaya - Enam tahun lalu, Muhammad Hendri Firdaus masih harus minum obat usai divonis pertumbuhannya terganggu karena tidak bisa tinggi. Kini, dia bisa membuat kedua orang tuanya bangga karena dipanggil untuk memperkuat Timnas Hoki Indoor Indonesia.

Mendapat panggilan untuk memperkuat timnas Indonesia tidak pernah ada di benak pemuda berusia 22 tahun ini. Sejak kelas X, dia berhenti minum obat dan tidak lagi dipanggil 'unyil' karena pendek.

Hormon Pertumbuhan Terganggu

Akibat pernah didiagnosa hormon pertumbuhannya terganggu. Sejak SD dia terus minum obat dari dokter. Tingginya sempat 145 sentimeter saat SMP sehingga sering diledek oleh teman sebayanya.

Saat duduk di bangku SMA, dia lebih suka bermain sepak bola. Kedua orang tuanya sempat khawatir. Lambat laun, dia dikenalkan dengan olah raga Hoki indoor oleh sang pelatih Abdul Haq Habibur Rohim saat itu.

Tak Mampu Beli Stik Hoki

Dia mengira tidak ada bedanya dengan sepakbola dan futsal namun ternyata menggunakan stik. Karena saat itu tidak mampu membeli stik, Hendri berinisiatif meminjam stik dan bola milik pelatih untuk latihan di rumah.

"Dipinjami dan latihan di rumah termasuk bola, saya latihan di rumah. Selama dua tahun dipinjami. Satu tahun saya menabung dari uang saku sekolah baru mampu membeli stik seharga Rp 400 ribu," ucap Hendri, Kamis (22/10/2021).

Stik perdana miliknya itu membuatnya semakin giat berlatih. Kemampuannya meningkat, hingga mendatangkan prestasi.

Raih Juara

Saat SMA di level klub berhasil meraih juara 1 di Jakarta dan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Saat memperkuat Kabupaten Gresik menyabet juara pertama di Malang sebanyak dua kali.

Pemuda yang bisa menempati dua posisi sebagai midfielder dan striker mempersembahkan juara Cabang Olahraga (Cabor) hoki Indoor di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI 2019. Di nomor Indoor Putra Hoki, Kabupaten Gresik mengalahkan Kota Surabaya dengan skor 3-0.

"Porprov kemarin diwajibkan coach Rohim untuk membelikan sesuatu kepada orang tua. Saya belikan perhiasan untuk ibu dengan uang hasil juara pertama," kata dia.

Jadi Wakil Jatim

Prestasi itu tidak membuatnya besar kepala. Dia ingin meraih prestasi yang lebih tinggi lagi. Kesempatan itu datang, namanya masuk dalam enam pemain bersama satu pelatih asal Gresik dipastikan menjadi tim Hoki Jawa Timur (Jatim) di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua.

Mereka adalah Ilham Wiranata, Malik Fajar, Ferdian Fathur, Julian Agung, Andre Guntara dan Hendri Firdaus. Pelatih juga asal Gresik adalah Abdul Haq Habibur Rohim. 

Setelah puluhan tahun puasa medali, tim hoki Jawa Timur akhirnya berhasil mendapat medali pada PON XX Papua 2021 lalu.

Masuk Timnas

Direktur Teknik atau Dirtek timnas hoki Indonesia asal Malaysia, Muhammad Dharmaraj Abdullah kepincut kemampuan para pemain hoki asal Gresik. Coach Dharmaraj memanggil seluruh pemain dan pelatih hoki PON Jawa Timur asal Gresik untuk menjadi bagian Timnas Hoki Indonesia.

"Saat pulang ke Gresik saya langsung dikabari coach Rohim masuk Pelatnas Timnas Hoki. Ini pertama kali, saya bersyukur kepada Allah SWT langsung minta maaf dan mohon doa ibu ayah, mau bilang terimakasih coach Rohim yang mengenalkan hoki pas SMA. Tidak kepirkiran kerjasama di SMA berlanjut sampai ke Timnas Hoki Indonesia," ucapnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved