Berpotensi Terjadi Lagi, Ini Pendapat Pakar ITS Untuk Mengantisipasi Banjir Bandang

Banjir Bandang yang menimpa wilayah Batu dan sekitarnya berpotensi terjadi lagi selama musim penghujan.

Editor: sulvi sofiana
SURYA/SULVI SOFIANA
Pakar Geologi ITS 

SURYA WIKI, Surabaya - Banjir Bandang yang menimpa wilayah Batu dan sekitarnya berpotensi terjadi lagi selama musim penghujan. Mengingat wilayah resapan air dan kondisi hutan yang menipis saat ini dan adanya fenomena La Nina yang akan datang.

Pakar Geologi Institut Teknologi 10 Noepmber (ITS), Dr Ir Amien Widodo MSi berujar jika melihat proses alam, di daerah pegunungan yang awalnya batu dan menjadi tanah karena proses alam.

Awalnya tanahnya tipis, pohonnya kecil dan seiring waktu tanah tebal dan akarnya tebal.

Selama ini tanah bertahan ya karena ada pohon yang akarnya menahan tanah. Dan seiring waktu area gunung berubah fungsi menjadi pemukiman.

Tanah jadi tidak terlindungi karena tidak banyak resapan air dari pohon.

Gunung kalau ada resapan air di hutan, bisa meresap 80 persen air dalam semusim. Kalau tidak ada resapan, air hujan akan mengalir menjadi banjir dan membawa tanah.

Makanya banjir bandang ini tercampur-campur ada pohon dan tanah.

Tahun 2017an puncak gunung ini sudah berubah jadi lahan pertanian.

Diberitakan fenomena La Nina dan peningkatan risiko bencana hidrometeorologi. Kondisi ini berpotensi banjir bandang hingga longsor dengan skala lebih besar

Dan dampaknya tidak hanya di Jatim saja, karena kondisi seperti ini bukan hanya di Batu dan Malang.

Perlu dilakukan pemetaan daerah yang rawan banjir,longsor dan erosi.

Karena bencana seperti ini ada tanda-tandanya, seperti retak, tanah ambles yang bisa diatasi sementara sehingga tidak semakin besar kerusakannya.

Setelah dipetakan misalkan banyak penduduk di kawasan rawan, ya bisa di warning dulu.

Jangan sampai seperti di Nganjuk. Tanah di atasnya sudah retak, nggak diapa-apain,warga juga nggak diingatkan jadi korbannya semakin banyak.

Harusnya himbauan dilakukan sejak awal, karena BMKG juga sudah mengumumkan sejak awal Oktober ada peningkatan curah huja.

Tetapi tidak ada kata terlambat saat ini, masih bisa memetakan daerah yang berpotensi longsor berikutnya.

Tahun kemarin Bondowoso, Probolinggo, Jember dan Banyuwangi juga terjadi bencana serupa jadi memang perlu disiapkan.

Jadi bukan hanya karena hujan deras terjadi banjir bandang, banyak faktor lain bisa karena hutan gundul, tumbuhan yang ada tidak bisa menahan erosi.

Wilayah yang berpotensi longsor dan banjir mulai daerah kawasan pegunungan.

Khusus daerah puncak gunung, dimanapun itu, di daerah apapun harus dijadikan kawasan lindung dan hanya untuk hutan.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved