Pengabdian Masyarakat Perguruan Tingggi Wujudkan Desa Tertinggal Jadi Desa Mandiri

Kegiatan Pengabdian Masyarakat (Pengmas) yang selama ini dilakukan kalangan perguruan tinggi diharapkan mampu mengurangi desa tertinggal di Indonesia.

Editor: sulvi sofiana
SURYA/SULVI SOFIANA
Rektor Unusa dalam Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat yang diadakan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). 

SURYA WIKI, Surabaya - 

Kegiatan Pengabdian Masyarakat (Pengmas) yang selama ini dilakukan kalangan perguruan tinggi sebagai bentuk menjalankan tri dharma diharapkan mampu mengurangi desa tertinggal di Indonesia.

Plt Dirjen Dikti Kemendikbudristek, Prof Nizam dalam pengantarnya mengatakan, program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) adalah salah satu kegiatan yang menjadikan ruang belajar tidak lagi dibatasi oleh ruang kelas, laboratorium, dan perpusatakaan, tetapi semesta atau samudera kehidupan sebagai tempat menimba ilmu, mengasah diri dan mengembangkan kompetensi.

Untuk itu, Prof Nizam mengajak kampus untuk terus meningkatkan pengabdiannya ke desa.

“Dari 80 ribuan desa saat ini masih ada sekitar 27 ribuan desa dengan status tertinggal. Kalau desa tertinggal itu ada kantong-kantongan kemiskinan, kantong-kantong masalah Kesehatan, pendidikan dan masalah ekonomi.

Bisa dikeroyok dan selesaikan secara bersama-sama, bisa diselesaikan secara bersama-sama, maka desa kita akan lebih cepat maju dan sejahtera” katanya dalam Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat yang diadakan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BPSDM Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Prof Luthfiyah Nurlaela mengatakan, desa mandiri adalah desa yang mempunyai ketersediaan dan akses terhadap pelayanan dasar yang mencukupi, infrastruktur yang memadai, aksesibilitas/transportasi yang tidak sulit, pelayanan umum yang bagus, serta penyelenggaraan pemerintahan yang sudah sangat baik.

“Melalui dana desa diharapkan akan tercipta desa mandiri. Karena itu penggunaan dana desa diarahkan untuk pemulihan ekonomi nasional sesuai kewenangan desa, program prioriotas nasional sesuai kewenangan desa, dan mitigasi bencana alam dan nonalam sesuai kewenangan desa,” katanya.

Pada bagian lain makalahnya, Guru Besar Universitas Negeri Surabaya ini mengatakan, dalam hal program MBKM terkait dengan desa, pendekatan program yang diambil sebaiknya dilaksanakan secara holsitik.

“Mengirim mahasiswa adalah salah satu contoh program. Aktivitasnya merupa merekrut dan membuka peluang mahasiswa yang ingin mengambil hak belajar 3 semester di luar program studi dalam bidang proyek di desa.

Mahasiswa bertugas mengajar, berkolaborasi terkait isu-isu di desa dan tinggal bersama masyarakat di desa selama satu tahun (2 semester) sekaligus menjadi  inspirasi dan motivasi untuk pemuda desa serta motor perubahan bagi pemangku kepentingan lain,” katanya.

Hal lainnya, kata Luthfiyah menambahkan,  yang bisa dilakukan adalah bekerja intensif dan jangka panjang. Bentuknya menempatkan mahasiswa secara bergantian dan berkelanjutan selama tiga hingga lima tahun di sebuah desa binaan untuk memastikan perubahan yang berkelanjutan tanpa menciptakan ketergantungan kepada sebuah sosok atau program.

Menurutnya ada tiga tahapan yang harus dilalui untuk membangun desa secara berkelanjutan dan menjadi desa mandiri.

Tahap pertama, dalam hal pelibatan, yakni mahasiswa fokus menemukan aktor lokal dan melibatkannya dalam inisiatif tingkat desa hingga kabupaten yang berpotensi menggerakkan masyarakat di daerahnya. “Tahap Kedua, pengembangan.

Mahasiswa fokus mengembangkan kapasitas para aktor lokal dengan menjejaringkan mereka dan membuka interaksi dengan entitas di luar kabupatennya,”urainya.

Dan tahap ketiga, kolaborasi. Dimana mahasiswa fokus mendorong terjadinya  kolaborasi aktor lokal baik di daerahnya maupun dengan entitas lain di luar daerahnya.

Rektor Unusa, Prof Achmad Jazidie dalam sambutanya mengatakan, kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan perguruan tinggi kini tidak hanya berhenti pada laporan tapi dapat ditulis pada jurnal dan diseminarkan sepertyi saat ini.

“Melalui seminar seperti inilah pengalaman terjun ke masyarakat dalam bentuk pengabdian pada masyarakat bisa dipertanggungjawabkan dan didesiminasikan lebih luas lagi. Ini adalah bagian dari tanggungjawab keilmuan,” katanya.

(Sulvi Sofiana)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved