Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan Bisa Dilakukan Di Seluruh Fasilitas Kesehatan

Kasus Penyakit Jantung Bawaan (PJB) kritis pada bayi baru lahir seperti peristiwa gunung es yang banyak tidak diketahui karena minimnya deteksi dini.

Editor: sulvi sofiana
SURYA/SULVI SOFIANA
Penjelasan Ketua Unit Kerja Koordinadi Kardiologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr Rizky Adriansyah SpA(K)terkait PJB dalam seminar media 'Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi Baru Lahir' secara daring, Senin (13/12/2021). 

SURYA WIKI, Surabaya - Kasus Penyakit Jantung Bawaan (PJB) kritis pada bayi baru lahir seperti peristiwa gunung es yang banyak tidak diketahui karena minimnya deteksi dini. Untuk itu dapat deteksi sedini mungkin harus dilakukan di seluruh fasilitas kesehatan.

Ketua Unit Kerja Koordinadi Kardiologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr Rizky Adriansyah SpA(K) mengungkapkan berdasarkan data lima tahun terakhir 60 persen PJB terlambat didiagnosis dan 80 persen PJB kritis terlambat didiagnosis.

“PJB Kritis ini merupakan PJB yang bisa mengancam nyawa bayi jika tidak segera ditangani  bayi bisa meninggal dalam beberapa hari atua bulan,” ujarnya dalam seminar media 'Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi Baru Lahir' secara daring, Senin (13/12/2021).

Untuk itu, UKK Kardiologi IDAI tahun 2021 merekomendasikan pemeriksaan saturasi oksigen dengan alat pulse oksimeter pada setiap bayi sehat usia 24 – 48 jam atau sebelum dipulangkan.

“Pemeriksaan saturasi oksigen dengan alat pulse oksimeter dapat dilakukan oleh dokter, bidan, atau perawat terlatih di seluruh fasilitas Kesehatan,”lanjutnya.

Setelah itu perlu dilakukan pencatatan hasil skrining PJB Kritis. Jika hasil skrining positif, perlu segera merujuk bayi ke Rumah Sakit.

Sebelum merujuk, lakukan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) dan hindari pemberian terapi oksigen berlebihan saat merujuk bayi ke rumah sakit.

“Untuk itu tenaga Kesehatan perlu dibekali untuk skrinning PJB Kritis, dengan Pelatihan Skrining PJB Kritis untuk Nakes mulai dari dokter, bidan, dan perawat,” lanjutnya.

Dokter Rizky juga masih menemukan kendala dalam penanganan PJB Kritis. Seperti Transportasi bayi dengan PJB Kritis yang biayanya mahal dan belum termasuk tarif non-kapitasi Jasa pendampingan tenaga kesehatan ke rumah sakit.

Kemudian Prostaglandin injeksi yang tidak tersedia di Rumah Sakit. Padahal Obat sudah tercantum di formularium nasional, namun belum masuk registrasi BPOM.

“Kemampuan NICU / PICU masih banyak belum terstandar dan jumlah RS rujukan untuk paripurna melakukan tatalaksana intervensi masih sangat terbatas seperti RSPJN Harapan Kita, RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, RSUD dr Soetomo Surabaya,”pungkasnya.

(Sulvi Sofiana)

Ikuti kami di
KOMENTAR
1796 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved